jamban

Sebagian Warga Bandar Lampung Tak Memiliki Jamban Layak

Sebagian Warga Bandar Lampung Tak Memiliki Jamban Layak
Gorong-Gorong yang Dijadikan Sebagai “Jamban Umum” Warga Kelurahan Gedong Pakuon. Putri Purnama/Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sanitasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan bahkan kesejahteraan masyarakat pada suatu daerah.  

Namun, jika dilihat dari data capaian akses sanitasi Provinsi Lampung tahun 2015-2019 yang bersumber dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPPW) Lampung, akses sanitasi aman tertulis 67,03%. Itu artinya masih ada 32,97% dari total 8.117.268 warga yang belum mempunyai akses sanitasi layak di Provinsi Lampung. 

Dengan capaian tersebut, pemerintah masih harus memikul beban sebesar 22,97% guna meraih target nasional atas capaian akses sanitasi layak pada tahun 2024. Lalu bagaimana dengan akses sanitasi aman di Provinsi Lampung? 

Berbeda dengan sanitas layak, sanitasi aman di Provinsi Lampung memiliki target nasional sebesar 10% yang harus dicapai hingga 2024 mendatang. Dilihat dari data dan sumber yang sama, capaian sanitasi layak tahun 2019 Provinsi Lampung tertulis sebesar 0,03% warga memiliki akses sanitasi layak. 

Tentunya untuk mencapai target askes sanitasi layak maupun aman, tak melulu semua dibebankan kepada pemerintah. Peran dan perilaku masyarakat juga merupakan faktor besar yang mampu mendorong tercapainya target nasional tersebut. 

Menjelang peringatan Hari Toilet Sedunia pada 19 November 2020 esok, Lampost.co bersama Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) menilik potret akses sanitasi warga yang tinggal di Kali (sungai) Belau, Kelurahan Gedong Pakuon Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung. 

Dari atas jembatan Kali Belau, terlihat berbagai aktifitas yang dilakukan oleh warga sekitar disepanjang bibir sungai, mulai dari buang air besar (BAB) hingga mencuci ikan. 

Seperti yang dilakukan oleh Iis (46) warga Gedong Pakuon, terlihat sedang mencuci ikan yang hendak ia masak pindang untuk makan siang keluarganya. 

“Kalau untuk mandi biasanya menggunakan air PAM harga per pasang drigen Rp6 ribu, kalau sekarang saya cuci ikan aja,” jelasnya dibibir Kali Belau pada Rabu,18 November 2020 pagi.

Selain Iis, keterangan mengejutkan dilontarkan dari Aisyah (54) yang juga warga kelurahan Gedong Pakuon. Sembari mandi menggunakan sehelai kain tipis berwarna hitam. 

Ibu dengan delapan anak ini mengatakan bahwa satu lingkungan di sekitar rumahnya tak  ada yang memiliki akses jamban layak. Bagi warga yang ingin buang air besar, akan langsung menuju sebuah gorong-gorong berukuran sekitar 70 cm x 2 meter dengan tinggi tak sampai 1 meter yang berada tepat di depan DIPL Tanjung Karang Unit Teluk Betung, Jl Wr. Supratman, Kota Bandar Lampung.

“Kalau kebelet ya bisa langsung disini (pinggir sungai) juga bisa, diatas sana yang ada bunyi air mancur itu juga bisa,” jelasnya.

“Misal saya lagi mandi terus ada yang ngambang-ngambang (tinja), yaudah saya kibasin airnya supaya nggak ke badan,” tambahnya.

Capaian target nasional sebesar 10% akses sanitasi aman Provinsi Lampung sepertinya terasa berat untuk dicapai saat perilaku masyarakat masih banyak yang tak peduli. 

Urban Sanitation Specialist SNV Indonesia, I Nyoman Suartana mengatakan bahwa seluruh elemen harus saling bahu-membahu untuk mencapai target tersebut. 

“Kalau yang diatas (pemerintah) kuat, yang dibawah (rakyat) biasa saja ya masih bisa dipaksakan dengan aturan dan sanksi. Tapi kalau diatas yang tidak peduli, ya bagaimana mau tercapai targetnya,” ujarnya saat sedang berdiskusi bersama media di kantor SNV Indonesia Lampung.

 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait