#Kesehatan#VirusKorona

Satu Lagi Turis di Australia Terluka akibat Paus

( kata)
Satu Lagi Turis di Australia Terluka akibat Paus
Ekor dari ikan paus bungkuk. (Foto: Luis Acosta/AFP

Canberra (Lampost.co) -- Seorang perempuan terluka akibat terkena hantaman seekor ikan hiu paus di perairan Australia Barat pada Kamis kemarin. Itu merupakan insiden kedua yang melibatkan hiu paus di Australia dalam kurun waktu kurang dari sepekan.

Dikutip dari laman BBC, Sabtu 8 Agustus 2020, turis perempuan itu terkena hantaman hiu paus saat sedang snorkelling di situs wisata Ningaloo Reef. Beberapa hari sebelumnya, seorang perempuan juga mengalami retak tulang iga dan pendarahan organ dalam usai dihantam hiu paus.

Otoritas Australia Barat mengaku sedang menginvestigasi dua insiden serupa tersebut.

Beberapa laporan menyebut, perempuan berusia 29 tahun dari insiden pertama sempat terperangkap di antara dua paus bungkuk saat menyelam. Sementara perempuan dalam insiden kedua dilaporkan mengalami cedera hamstring usai terkena ekor hiu paus.

Dalam insiden terbaru, korban bernama Alicia Ramsay mengaku sedang snorkelling di dekat Ningaloo Reef sebagai bagian dari tur hiu paus. Kala itu, ia didekati seekor paus bungkuk dan anaknya.

"Anak paus itu mendekat, sehingga berada di antara kami. Insting protektif ibu paus tergerak, dan ia pun menghantam kami dengan ekornya," kata Ramsay kepada Nine News Perth.

Ramsay diterbangkan ke rumah sakit Royal Perth Hospital. Dokter mengatakan korban mengalami luka ringan dan dapat sembuh total dalam beberapa hari ke depan.

Departemen Biodiversitas, Konservasi, dan Atraksi (DBCA) mengonfirmasi terjadinya insiden. DBCA mengaku telah memberikan izin tur komersial di Ningalo Reef, termasuk "interaksi langsung dengan paus bungkuk dan hiu paus."

"DBCA terus bekerja sama dengan industri dan operator berlisensi untuk menyelidiki dua insiden tersebut," ungkapnya.

Ningalo Reef di Australia Barat dikenal sebagai perairan kaya makhluk laut, dan merupakan salah satu situs wisata ternama di Negeri Kanguru.

EDITOR

Abdul Gafur

loading...

Berita Terkait

Komentar