#Mimbar#SampahBerkelanjutan#Sedotanplastik

Sampah Berkelanjutan

Sampah Berkelanjutan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. MI/Ebet


JANGAN kaget dengan data berikut: ada lebih dari 80 juta batang sampah sedotan plastik tiap hari di seluruh Indonesia. Sedotan plastik tersebut sangat susah didaur ulang sehingga pemulung pun enggan mengambilnya.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rose Vivien Ratnawati punya perumpamaan unik ihwal sedotan plastik tersebut. Kata Bu Dirjen, "Jika sampah sedotan plastik per hari itu dijejer-jejer, panjangnya bisa dari Jakarta hingga Meksiko. Dalam sebulan, kita sudah bisa mengelilingi dunia."

Seloroh Bu Dirjen pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021 se-Provinsi Lampung, Kamis (25/2), tersebut bukan sekadar seloroh kosong. Ia punya makna amat tajam agar kita tak mengentengkan sampah plastik walau sekecil dan sesederhana sedotan plastik. Sebanyak 70% sampah plastik lainnya sudah mulai bisa diurai, tapi tidak dengan sedotan plastik. Butuh waktu ratusan tahun untuk bisa menguraikannya.

Sampah plastik memang memusingkan. Peningkatan jumlahnya sangat eksponensial. Pada 1995 sampah plastik mencapai 9, sedangkan saat ini melonjak hingga lebih dari 30%. Sampah plastik tersebut di antaranya kantong plastik sekali pakai, sedotan plastik, dan styrofoam yang berasal dari restoran, rumah makan, minuman kemasan, dan sumber lainnya. Terutama sedotan plastik yang termasuk dalam 10 besar masalah serius di dunia.

Sedotan plastik menjadi masalah serius di dunia ketika masuk ke laut. Di Pantai Jimbaran, Bali, kendati turis masih lengang karena pandemi, 'produksi' sampah plastik, termasuk sedotan, jalan terus. Besarnya tak kurang dari 10 ton tiap hari, mengotori pantai hingga sepanjang sekitar 5 kilometer.

Tidak mengherankan setiap tahun sekitar sepertiga biota laut, termasuk terumbu karang dan burung laut, mati karena sampah plastik termasuk sedotan plastik sekali pakai yang berakhir di lautan. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat terumbu karang berperan besar melindungi pantai dari erosi, banjir pantai, dan peristiwa perusakan lain yang diakibatkan fenomena air laut. Terumbu karang juga merupakan tempat mencari makanan, tempat asuhan, dan tumbuh besar bagi berbagai biota laut.

Persentase jumlah sampah plastik dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang saja sudah sekitar 34% dari total 39 juta ton sampah. Setiap tahun, sebesar 1,3 juta ton sampah plastik di Indonesia bermuara di laut.

Karena itu, tepat kiranya bila kita memperbarui cara pandang kita terhadap sampah. Peradaban unggul amat memungkinkan bagi kita mengubah sampah, dari masalah menjadi berkah. Sampah tak cuma dibuang dan karena itu, kerap memusingkan pemerintah daerah karena kapasitas tempat pembuangan akhir sampah tak lagi mencukupi, tapi bisa dikelola untuk memutar roda ekonomi dan menghasilkan rezeki.

Sampah harus dikelola dengan baik dan mengedepankan prinsip 3M, yakni mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle).

Sampah juga mesti dikelola dengan berkelanjutan sehingga bisa menghasilkan manfaat. Bank sampah, misalnya, salah satu alternatif pengelolaan berkelanjutan itu. Data KLH menunjukkan di Indonesia ada 11 ribu bank sampah dan beromzet Rp47 miliar per tahun.

Bila upaya pengelolaan sampah, terutama sampah plastik, tersebut benar-benar dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif, era sampah sebagai beban segera berlalu. Penambahan 3 juta ton 'produksi' sampah per tahun pun mestinya bukan lagi masalah. Jumlah total sampah kita pada 2020 sekitar 68 juta ton. Padahal, setahun sebelumnya, baru 65 juta ton.

Jika tidak dilakukan penanganan serius, jumlah sampah plastik di dunia bisa mencapai 12 miliar ton pada 2050. Jumlah yang sangat tinggi dan bisa membawa dampak lebih besar bagi lingkungan. Belum lagi taksiran World Economic Forum yang menyebutkan 32% sampah plastik tersebut akan berujung mengotori dataran dan lautan.

Apa iya kita bisa keluar dari kemelut persampahan ini? Jika kita cerdas mengelolanya, jawabannya: amat bisa. Di beberapa tempat di Lampung, misalnya, komunitas peduli sampah berhasil menjadikan sampah botol plastik dan sampah plastik sebagai 'pengganti' batu bata. Kekuatannya lebih terjamin bila dibandinglan dengan batu bata. Ada juga yang memanfaatkan residu pengelolaan sampah untuk membuat bahan paving blok. Ada juga yang menyulap sampah menjadi bahan energi listrik. Daftarnya bakal kian panjang jika kecerdasan dalam mengelola sampah juga makin masif.

Sejarawan dan antropolog Jared Diamond bercerita tentang bangkit dan runtuhnya kejayaan-kejayaan masa lalu. Banyak peradaban yang lenyap dan meninggalkan monumental. Itu bukan hanya karena dilatari penggulingan pemerintahan oleh pemerintahan lain melalui perang, melainkan juga akibat penyebaran penyakit, buah dari rusaknya lingkungan dan sampah yang gagal dikelola.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait