#PENGEROYOKAN#PENGANIAYAAN

Saksi Benarkan Keluarga Nakes Kedaton Minta Uang Damai Rp200 Juta

Saksi Benarkan Keluarga Nakes Kedaton Minta Uang Damai Rp200 Juta
Saksi memberikan keterangan dalam sidang pengeroyokan terhadap tenaga kesehatan (Nakes) Puskemas Kedaton di PN Tanjungkarang, Senin, 22 November 2021. Lampost.co/Asrul S Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sidang pengeroyokan terhadap tenaga kesehatan (Nakes) Puskemas Kedaton dengan tiga tersangka yakni Awang Helmi (44), Novan Putra Abdillah (32), dan Didit Maulana (31), kembali digelar di PN Kelas IA Tanjungkarang, Senin, 22 November 2021.

Agenda sidang tersebut yakni mendengarkan keterangan beberapa saksi. Salah satu saksi yakni Ustaz A. Syaifuddin, salah satu pihak yang mencoba memediasi dua belah pihak yakni keluarga terdakwa dan korban. Dalam keterangannya, total ada empat kali pertemuan antar dua belah pihak.

"Pertama 30 September. Pertemuan pertama saya mendatangi ke rumah korban dan bertemu dengan ayahanda korban pak Mukti. Lalu 4 Oktober pertemuan kedua, 11 Oktober pertemuan ketiga, dan 12 Oktober pertemuan ke-4" ujarnya saat memberikan keterangan di persidangan. 

Saat pertemuan ketiga, mulai tengah malam hingga dini hari, ada obrolan tertutup keluarga korban dengan terdakwa Awang. Usai keluar Awang bercerita ke saksi Syaifuddin beberapa persyaratan yang harus dipenuhi termasuk pencabutan kuasa hukum para terdakwa dan sejumlah uang. 

Kemudian, pertemuan keempat pada 12 Oktober 2021 pagi,  istri terdakwa awang telah membawa sertifikat, yang nantinya akan diajukan kepada keluarga korban sebagai syarat perdamaian. Saat itu ada sekitar 11 orang dari keluarga Rendy. 

"Setelah sedikit perbincangan terkait beberapa persyaratan yang tidak bisa disannggupi oleh keluarga terdakwa. Ibunya Rendi bilang,  menolak sertifikat yang telah diajukan oleh keluarga terdakwa, yang diinginkan cash sebesar 200 juta selain itu biaya-biaya transportasi pengacara juga dibebankan kepada keluarga Awang,"kata saksi.

Saksi lainnya, Yulius, warga yang sempat berobat ke Puskesmas Kedaton, sebelum terjadinya pengeroyokan. Dalam keterangannya, Yulius memaparkan pelayanan kurang baik dari pihak Puskesmas Kedaton. Saat itu, sekitar pukul 12 malam, Yulius juga hendak mencari tabung oksigen, karena istrinya sesak napas.

Saat itu, Puskesmas sedang kosong. Tidak berselang lama, Rendi bersama dokter internship menemui saksi Yulius. Kemudian, ia hendak meminjam tabung oksigen, Rendi menolak.

"Saat itu Pak Rendi itu bilang percuma pak, lalu saya jawab, apa maksudnya pak percuma. Si Rendi malah bilang saya untuk balik lagi ke dokter asal. Lha, gimana orang saya disuruh dokter saya ke puskesmas sini. Padahal, saya melihat ada tabung oksigen, tapi saya tidak diberikan oksigen. Saya tersinggung karena korban Rendi bilang dengan kata percuma. Saya aja kecewa sampai sekarang. Saya emosi sampe saya ditarik sama kakak saya," katanya.

Sebelumnya, Tenaga Kesehatan Puskesmas Kedaton Rendy Kurniawan, membantah adanya permintaan uang ratusan juta, agar perkara pengeroyokan dirinya berujung dengan damai.

"Tidak benar itu, kalau iktikad baik dia damai ada.Datang dua kali bareng ustaz yang kenal dengan orang tua saya. Tetapi, tidak ada kata perdamaian dari keluarga saya, baik omongan maupun tertulis. Uang Rp300 juta itu tidak benar, tidak ada ucapan seperti itu, fitnah itu," ujarnya beberapa waktu lalu. 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait