#KRINANGGALA#KAPALSELAM#BERITABANDARLAMPUNG

Rumah Kakak Kapten KRI Nanggala di Rajabasa Ramai Kerabat

Rumah Kakak Kapten KRI Nanggala di Rajabasa Ramai Kerabat
Sejumlah kerabat yang mendatangi rumah Kakak Letkol Heri di bilangan Rajabasa Pemuka, Minggu, 25 April 2021. (Foto: Lampost.co/Asrul S Malik)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Rumah Chandra Yunita, kakak dari Letkol Heri Oktavian, kapten kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak di perairan Bali,  di bilangan Kompleks Rajabasa Pemuka, Rajabasa, mulai didatangi kerabat dan tetangga, pada Minggu  malam, 25 April 2021. Pemantauan Lampost.co, minggu malam sekitar pukul 20.45 WIB, terlihat satu persatu tetangga atau kerabat datang dan masuk, mengunjungi rumah tersebut untuk bercengkerama dengan kerabat Letkol Heri. Di rumah tersebut juga ada Ibunda Letkol Heri yakni Murhaleni, istri dari Kompol Imron, ayah Letkol Heri.

Chandra Yunita mengenal sang adik sebagai sosok yang cekatan, teliti, dan penuh dengan persiapan sebagai tentara Angkatan Laut, maupun sebagai kepala keluarga dalam kesehariannya. 

"Heri orangnya teliti banget, kalau pulang ke Lampug teliti, tempat tidur anaknya, panci kompor buat anaknya aja dibawa dari ke sini, saya yakin dia persiapan dan teliti, misalnya bawa tabung oksigen tambahan, atau upaya lainnya di kapal itu, saya masih optimis, dengan Adik saya dan hal-hal ketelitiannya dalam bekerja," katanya di kediamannya, Sabtu, 24 April 2020 siang.

Chandra Yunita menjelaskan Letkol Heri terakhir pulang ke Lampung pada Idulfitri 2017. Sebab Letkol Heri harus berangkat ke Hamburg, Jerman selama dua tahun. Kemudian, ia langsung menjabat komandan Sekolah Awak Kapal Selam atau Dansekasel di Pusat Pendidikan Khusus sejak November 2019, hingga ditunjuk menjadi komandan KRI Nanggala 402 pada 2020. Sang adik juga tercatat pernah menimba ilmu survival di Australia, dan berkuliah Nanyang Universiti Australia.

Ibunda Heri pun sempat ke Surabaya dan diajak masuk ke kapal selam lainnya pada 2020, bukan KRI Nanggala 402.

"Terakhir ke Lampung 2017, tapi terakhir kontakan via HP video call, beberapa hari sebelum berlayar, yang angkat istrinya, dikabarin istrinya kalau dia mau latihan," ujarnya.

Sang Ibu Murhaleni (73) pun sempat berkomunikasi dengan Letkol Heri, beberapa hari sebelum ia berlayar. Ia mengirimkan informasi larangan mudik ke anaknya.

"Saya kirim video larangan mudik, dan emang tahu kalau dia mau berlayar. Jadi, nanti enggak bisa komunikasi, saya berharap segera ditemukan dalam keadaan selamat," kata wanita yang menggunakan hijab warna pink tersebut. Murhaleni dan suaminya yang berprofesi sebagai polisi mulai tinggal di Lampung sejak 1995 tepatnya di Metro. Anak-anaknya lahir di pangkal Pinang. Kemudian, keluarga sempat pindah ke beberapa kabupaten/kota di Nangroe Aceh Darusallam karena berdinas hingga tiba di Lampung. 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait