#kpk#korupsi

Resmi Tersangka, Begini Perjalanan Kasus Suap Azis Syamsuddin

Resmi Tersangka, Begini Perjalanan Kasus Suap Azis Syamsuddin
Ketua KPK Komjen Firli Bahuri, dalam siarang langsung konferensi pers. Tangkapan layar.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- KPK resmi menetapkan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin sebagai tersangka pemberian hadiah atau janji dalam penanganan tindak pidana korupsi yang ditangani KPK di Lampung Tengah.

"Dipimpin Direktur Penyidikan melakukan upaya paksa berupa penangkapan AZ, langsung datang ke kediamannya di Jakarta Selatan," kata Ketua KPK Komjen Firli Bahuri, dalam siarang langsung konferensi pers, Sabtu, 25 September 2021.

Sebelumnya Azis meminta penundaan pemeriksaan karena berdalih kontak erat dengan orang yang terpapar covid-19 dan menjalani isolasi mandiri. Namun KPK tak percaya dan mengecek langsung.

"Hasil pengecekan di rumah beliau, test swab antigen nonreaktif Covid-19, lalu tim membawa AZ ke gedung Merah Putih," katanya.

Konstruksi perkara ini bermula pada sekitar Agustus 2020, Azis menghubungi eks penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju, untuk mengurus kasus yang melibatkan dirinya dan Aliza Gunado selaku orang kepercayaan Azis.

Kemudian Robin menghubungi seorang lawyer bernama Maskur Husain untuk mengurus perkara tersebut. Kemudian Maskur meminta Azis dan Aliza menyiapkan masing-masing uang Rp2 miliar.

Robin juga menyampaikan langsung ke Azis terkait permintaan uang tersebut dan disetujui Azis. Kemudian Maskur meminta uang muka Rp300 juta terhadap Azis.

"AZ mengirmkan uang ke rekening MH secara bertahap," katanya.

Masih pada Agustus 2020, Robin mendatangi rumah dinas Azis Syamsudin di Jakarta Selatan. Robin menerima uang dari Azis tiga kali, yakni 100 ribu dolar Amerika, 17.600 dolar singapura, dan 140.500 dolar singapura.

"Uang asing tersebut ditukarkan oleh SRP dan MH ke money changer dengan menggunakan identitas pihak lain, sebagaimana komitmen awal pemberian uang dari AZ ke RSP dan MH Rp4 miliar, dan telah direalisasikan Rp3,1 miliar," paparnya.

Sekitar 20 orang saksi diperiksa dan diperkuat dengan alat bukti, penyidik akhirnya menahan Azis mulai 24 September sampai 13 November 20217, di Rutan Polres Jakarta Selatan.

Dalam kasus ini, Azis disangkakan dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait