#antimikroba#beritalampung#telur

Resistensi Antimikroba Ancaman Kesehatan Global

Resistensi Antimikroba Ancaman Kesehatan Global
Foto: Gubernur Lampung Arinal Djunaidi menerima Rekor MURI terkait Budidaya Unggas Petelur Terbanyak dalam setahun. Penyerahan di Lapangan Korpri Pemerintah Provinsi Lampung, Jumat (22/11/2019). Dok.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) adalah salah satu ancaman terbesar kesehatan global. Tidak hanya di kesehatan manusia, namun juga kesehatan hewan dan lingkungan berperan dalam hal ini. Setiap tahunnya, 700.000 orang meninggal akibat infeksi yang resisten terhadap antimikroba dan banyaknya jumlah hewan ternak yang mati akibat tidak mampu mengendalikan infeksi.

Antimikroba adalah satu jenis obat-obatan yang memiliki fungsi untuk membunuh atau menghambat laju pertumbuhan mikroba, dimana salah satunya adalah antibiotik. Antibiotik digunakan untuk menyembuhkan infeksi bakteri pada manusia dan hewan.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di sektor agrikultur (peternakan, pertanian dan perikanan) dan kesehatan manusia mempercepat laju resistensi bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik (superbugs). Tanpa upaya pengendalian global, AMR diprediksi akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada tahun 2050, dengan tingkat kematian mencapai 10 juta jiwa per tahun melampaui penyakit jantung, kanker dan diabetes, serta menimbulkan krisis ekonomi global.

Situasi ini mendorong Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) bersama Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) ECTAD dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) bekerja sama dengan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, Universitas Lampung dan Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung menggelar kampanye bijak dan cerdas menggunakan antibiotik di Lapangan KORPRI, Bandar Lampung. Kampanye ini merupakan puncak perayaan Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia 2019 di Indonesia.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) I Ketut Diarmita melalui Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Syamsul Ma'arif, menekankan untuk memerangi laju resistensi antimikroba diperlukan tindakan dari semua pihak.

“Tantangan dalam memerangi laju resistensi antimikroba dan mengendalikan penyakit infeksi baru harus dipandang sebagai kewajiban dan tanggung jawab semua pihak, untuk itu semuanya harus senantiasa berupaya meningkatkan kompetensi profesional dan selalu menjaga agar antimikroba tetap efektif,” ujarnya di Lapangan Korpri Pemerintah Provinsi Lampung, Jumat, 22 November 2019.

Direktur Kantor Keuangan USAID, Ravindral Suaris, mengakui peran Pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Pertanian, atas langkah – langkah penting dalam mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba. Tahun ini menandai 70 tahun hubungan diplomatik AS - Indonesia.

Selama lebih dari satu dekade, Amerika Serikat melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), telah bermitra dengan Pemerintah Indonesia untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam mencegah dan mengendalikan penyakit dan baru-baru ini mengendalikan resistensi antimikroba (AMR) sebagai bagian dari komitmen kedua negara terhadap ketahanan kesehatan global. 

"Melalui kerja sama antara sektor kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan produksi pangan, kita bisa membantu mencegah bakteri menjadi resisten terhadap penangkal yang kita miliki yaitu antibiotik, dan menjaga supaya lebih banyak orang di dunia lebih sehat, lebih aman dan lebih produktif secara ekonomi,” katanya.

 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait