#MPR#NASDEM#LESTARIMOERDIJAT

Rerie: Atasi Kekerasan Seksual Anak Mesti Transparan dan Melindungi Korban

Rerie: Atasi Kekerasan Seksual Anak Mesti Transparan dan Melindungi Korban
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Foto: Dok MI)


Jakarta (Lampost.co) – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyatakan penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak harus transparan dan mengedepankan perlindungan terhadap korban. Pembahasan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU-TPKS) diharapkan segera tuntas untuk mempertegas hak-hak korban.

"Berbagai tindak kekerasan seksual terhadap anak merupakan tindak kejahatan yang harus segera dihentikan, mengingat dampaknya yang bisa meluas hingga masa mendatang," kata Rerie, sapaan akrab Lestari, menyikapi kasus dugaan pemerkosaan tiga anak oleh ayahnya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, melalui keterangan tertulis, Jumat, 8 Oktober 2021.

Menurutnya, semua pihak harus mengedepankan transparansi dalam proses penanganan kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak. Pada kesempatan itu, Rerie menyampaikan keprihatinan yang mendalam terkait kasus dugaan kasus kekerasan seksual di Luwu Timur itu.

Baca juga: 196 Anak di Lampung Jadi Korban Kekerasan Seksual Sepanjang 2021

Kasus kekerasan seksual terhadap anak, diakui Rerie, memang cukup pelik karena biasanya melibatkan orang-orang dekat di sekitar korban. Karena itu, Rerie yang juga anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, mendesak semua pihak yang terlibat dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak dapat mengepankan fakta-fakta secara transparan, agar dihasilkan pengambilan keputusan yang adil dan tepat.

Di sisi lain, proses pembahasan RUU-TPKS yang mengatur hak-hak korban kekerasan seksual, diharapkan segera tuntas. Kehadiran Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, jelas Rerie, merupakan istrumen yang tidak kalah penting agar negara berperan aktif dalam melindungi hak-hak para korban kekerasan seksual, lewat kepastian hukum.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), per Jumat (23/7) terdapat 5.463 kasus kekerasan terhadap anak. Dari total kasus kekerasan pada perempuan dan anak, sebanyak 5.198 kasus terjadi di lingkup rumah tangga.

Menurutnya, tingginya jumlah kasus dan kendala dalam penanganan kasus-kasus kekerasan seksual seharusnya mendorong para legislator di parlemen segera menyepakati RUU-TPKS, yang tengah dibahas saat ini.

Rerie berharap, para pemangku kepentingan di pusat dan daerah meningkatkan komitmennya dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak di tanah air.

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait