#hoaks#covid-19

Rektor Unila: Transparansi Data Kunci Pemerintah Lawan Hoaks Seputar Covid-19

Rektor Unila: Transparansi Data Kunci Pemerintah Lawan Hoaks Seputar Covid-19
Rektor Unila Prof Karomani usai memberikan sambutan dalam pembukaan Seminar Nasional bertajuk "Membangun Komunikasi Publik yang Kuat dalam Mencegah Hoaks di Masa Pandemi, Selasa, 7 September 2021. Lampost.co/Umar Robani


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Penyebaran berita bohong atau hoaks menjadi persoalan pemerintah dalam penanganan pandemi covid-19. Pemerintah disarankan membangun komunikasi publik yang lebih baik demi menekan laju misinformasi yang kerap menyasar masyarakat.

Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof Karomani mengatakan pentingnya membangun komunikasi publik yang baik. Menurutnya, pemerintah harus lebih transparan terkait informasi yang penting demi membangun kepercayaan publik.

"Jangan sampai karena ingin dikatakan berprestasi lalu kita tutup-tutupi kondisi yang sebenarnya," ujarnya, usai memberikan sambutan dalam pembukaan Seminar Nasional bertajuk "Membangun Komunikasi Publik yang Kuat dalam Mencegah Hoaks di Masa Pandemi, Selasa, 7 September 2021.

Baca: Pemerintah dan Media Harus Sinergi Lawan Hoaks Covid-19

 

Karomani menilai, keterbukaan informasi akan membuat semua pihak lebih waspada. Sebab, dengan fakta yang disampaikan secara benar maka semua pihak bisa melakukan pencegahan dengan tepat.

"Mengambil kesimpulan kebijakan itu kan by data. Tetapi, kalau datanya tidak akurat bagaimana?" kata dia.

Ia menjelaskan, seminar yang dilaksanakan dalam memperingati Dies Natalis ke-56 Unila itu bertujuan memberikan pemahaman edukasi digital. Hal itu penting agar masyarakat memiliki kesadaran dalam mengolah informasi yang diterima.

Rektor mengungkapkan, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI, sepanjang Januari 2020 - Juni 2021 ditemukan 1.763 hoaks. Hal itu, menurut dia, menjadi ancaman karena bisa menganggu penanganan covid-19 dan memicu kepanikan di tengah masyarakat.

"Saat ini banyak beredar berita bohong di media sosial, ini sangat berbahaya bagi kepentingan publik," pungkasnya.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait