#beritalampung#beritabandarlampung#hukum#korupsi

Rekanan dan PPK Proyek Jembatan Way Batu Dituntut 14 Bulan Penjara

Rekanan dan PPK Proyek Jembatan Way Batu Dituntut 14 Bulan Penjara
Ilustrasi. Foto: Google Images


Bandar Lampung (Lampost.co): Terdakwa perkara korupsi Jembatan Way Batu, Pesisir Barat Aria Lukita (44) selaku rekanan dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Abdullah dituntut 1 tahun dan dua bulan penjara pada sidang di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 8 Desember 2022.

Jaksa Penuntut Umum Hakim Agoeng T. Rasoen menyatakan keduanya terbukti bersalah melanggar Pasal 3 Jo Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke -1 KUHP.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa selama satu tahun dan dua bulan penjara," ujar Jaksa saat membacakan tuntutan.

Keduanya juga dituntut membayar denda Rp50 juta, subsider 3 bulan kurungan penjara. Selain itu, Aria Lukita juga dituntut membayar uang pengganti Rp339.044.115,75. Aria Lukita pun telah memulangkan kerugian negara secara penuh ke Kejaksaan Negeri Lampung Barat.

"Yang diperhitungkan dari uang yang dititipkan terdakwa kepada Kejaksaan Negeri Lampung Barat berdasarkan berita acara penitipan uang pengganti pada tanggal 2 Desember 2022, sehingga dapat diperhitungkan sebagai uang pengganti dari terdakwa untuk disetorkan ke kas negara subsider 2 tahun dan 6 bulan penjara," katanya.

Baca juga:  Pelabuhan Bakauheni Terapkan Delay Sistem Selama Nataru

Aria Lukita berencana mengajukan nota pembelaan atau pleodi atas tuntutan yang dijatuhkan kepadanya. "Iya kami akan mengajukan pleodi," ujar kuasa hukum Aria Lukita, Ahmad Handoko, usai sidang.

Senada, kuasa hukum Abdullah, Eka Manda Yanti, mengatakan pihaknya akan mengajukan pledoi, baik pledoi secara tertulis maupun pledoi secara lisan, yang nantinya akan disampaikan langsung oleh Abdullah. "Kami akan ajukan pleodi," katanya.

Sidang selanjutnya dengan agenda pledoi akan dilangsungkan pada Kamis, 15 Desember 2022. "Sidang ditunda pekan depan," kata Majelis Hakim Hendro Wicaksono.

Perbuatan terdakwa Aria Lukita dilakukan pada 2014 saat Dinas Pekerjaan Umum, Pertambangan dan Energi Lampung Barat membangun Jembatan Way Batu, Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Barat. Proyek itu memiliki anggaran Rp1,3 miliar.

Atas adanya pekerjaan itu, Aria Lukita meminjam CV. Empat Sejati milik Suyatmi untuk mendapatkan proyek tersebut.

"Aria Lukita mengawasi atau mandor di lapangan tidak pernah melihat rincian anggaran biaya (RAB) dan gambar kerja, melainkan hanya mengawasi pekerjaan," ujar Jaksa yang membacakan dakwaan.

Kemudian, Teguh Sulisto selaku konsultan pengawas menemukan adanya capaian pekerjaan peningkatan Jembatan Way Batu baru diselesaikan 73,93%. Sebab, masih terdapat pekerjaan mobilisasi, pekerjaan tanah, perkeras berbutir, struktur, pasangan batu serta bangunan bawah yang belum selesai sehingga terjadi deviasi 26,07%.

Atas keterlambatan itu, saksi Teguh mengajukan surat teguran yang ditujukan kepada pelaksana pekerjaan.

Dari hasil pemeriksaan Tim Ahli Teknik Universitas Lampung pada 2 Maret 2018 terdapat kekurangan volume pekerjaan terhadap beberapa item pekerjaan yang tidak sesuai kontrak pekerjaan. Sementara berdasarkan hasil audit kerugian keuangan negara dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Lampung, perbuatan terdakwa menyebabkan kerugian negara Rp339 juta.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait