#beritalampung#beritalamtim#sengketatanah

Rapat Keempat Sengketa Tanah Sumbemarga Lamtim Belum Ada Titik Temu

Rapat Keempat Sengketa Tanah Sumbemarga Lamtim Belum Ada Titik Temu
Rapat penyelesaian sengeketa tanah Way Abar, Sumbermarga, Kecamatan Way Jepara yang ke-4 berlangsung di Aula Utama Sekdakab Lamtim, Senin, 17 Oktober 2022. Lampost.co/Arman Suhada


Sukadana (Lampost.co): Rapat musyawarah penyelesaian sengketa tanah Way Abar, Sumbermarga, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, lagi-lagi belum ada titik temu.

Rapat keempat kalinya tersebut digelar Senin, 17 Oktober 2022, di Aula Utama Sekkab Lampung Timur dan dipimpin langsung oleh ketua tim penyelesaian sengketa yakni Wakil Bupati Lamtim, H Azwar Hadi.

Asisten I Bidang Pemerintahan Setdakab Lamtim Tarmizi mengatakan terkait musyawarah tanah sengketa tanah Way Abar tersebut masih difasilitasi tim. Tim ini merupakan gabungan dari beberapa instansi yang ada di Kabupaten Lampung Timur, termasuk didalamnya ada pihak kepolisian, BPN, kejaksaan, dan DLH.

"Ini (rapat) akan terus-menerus kita lakukan, nantinya akan kita undang secara lengkap apabila data sudah kita dapatkan secara lengkap," ujar Tarmizi.

Dia mengatakan pihaknya akan melakukan lagi pertemuan (musyawarah) tahap berikutnya, yaitu dengan agenda mengumpulkan seluruh data-data.

"Apabila ada data yang belum lengkap, maka ini kita minta kepada pihak yang bersengketa itu untuk melengkapi dan memberikan datanya kepada kita. Tadi juga ada informasi dari BPN untuk dibuatkan surat keterangan ahli waris agar jelas bahwa benar yang bersangkutan adalah ahli waris, itu adalah yang berhak. Sehingga tidak ada lagi saling klaim dari ahli waris yang lain," tandas Tarmizi.

Tarmizi mengatakan tim penyelesaian sengketa saat ini sedang berupaya memfasilitasi permasalahan tersebut. Pihaknya berharap kepada masyarakat yang bersengketa untuk tetap bersabar, dan dapat menahan diri.

"Agar tidak melakukan hal-hal, ataupun tindakan-tindakan yang dapat memicu terjadinya suatu perselisihan terutama di lapangan. Saya rasa itu yang benar-benar harus ditaati oleh semua pihak," kata dia.

Sementara itu, Arif Sofiyan sebagai ahli waris dari tanah tersebut mengatakan bahwa pihaknya sangat berharap permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan.

"Desa Sumbermarga itu memang benar pecahan dari Desa Sumber Bandung. Desa Sumber Bandung itu pecahan dari Labuhanratu 2. Desa Labuhanratu 2 itu pecahan dari Desa Labuhanratu Induk. Jadi memang induknya Desa Sumbermarga ini adalah Desa Labuhanratu Induk," ujar Arif.

"Jadi ahli waris ini jelas berasal dari Desa Labuhanratu Induk. Awal mulanya peristiwa ini terjadi pada tahun 1967, adanya penyerobotan tanah area Register 38 Gunung Balak, tanah Way Marga dimasukkan pemerintah ke kawasan Register 38 Gunung Balak," lanjutnya.

Arif mengatakan pihaknya selaku yang mempunya hak terhadap tanah tersebut sangat mengikhlaskan apabila tanah tersebut diambil alih oleh pemerintah untuk kepentingan masyarakat banyak.

"Tetapi ternyata ada upaya-upaya penyerobotan, sudah dimulai dari tahun 1967. Inilah makanya akan terjadi ketidakadilan yang kami rasakan saat ini. Saya juga perjelas untuk SK tahun 1998 di SK 545 itu jelas disitu putusan tanah tersebut dikembalikan kepada masyarakat yang berhak, bukan masyarakat yang ada," kata dia lagi.

Menurutnya, hak tanag yang mereka punyai adalah surat asli bersegel Belanda tertanggal 21 Januari 1911.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait