#budayalampung#beritalampung#humaniora#beritatubaba

Pusat Kajian Sejarah Kritisi Hilangny Kebudayaan Lampung di Tubaba

Pusat Kajian Sejarah Kritisi Hilangny Kebudayaan Lampung di Tubaba
Ketua Lembaga Pusat Studi Kajian Sejarah Budaya Lampung, Yuridis Mahendra. Foto: Lampost.co/Ahmad Sobirin


PANARAGAN (Lampost.co) -- Ketua Lembaga Pusat Studi Kajian Sejarah Budaya Lampung, Yuridis Mahendra mengkritik kelemahan budaya Lampung khususnya di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) yang hingga kini masih sebatas dongeng belaka tanpa fakta ilmiah, sehingga menimbulkan perspektif yang beragam di tengah perkembangan zaman.

"Menurut kami, budaya Lampung selama ini hanya tersirat. Kita hanya bisa mendengar dongeng orang tua, tetapi tidak melihat alat bukti," kata Mahendra, saat ditemui Lampost.co disela pertunjukan Festival Budaya Tubaba 2019, di Uluan Ughik Panaragan, Kamis, 29 Agustus 2019.

Yuridis mengatakan lembaganya selama melakukan penelitian di Kabupaten Tubaba menemukan banyak catatan yang terputus dan hilang, yang diduga disebabkan oleh faktor kurangnya animo dari masyarakat untuk mempelajari sejarah mereka sendiri. Selain itu kurangnya kerja sama antara pemuka-pemuka adat untuk memberikan keterangan dan menunjukkan alat bukti.

"Khususnya ulun (orang) Lampung itu memiliki suatu kebesaran. Sehingga saya meminta menginginkan, ayo sama-sama rapatkan barisan kita kumpulkan kembali kisah-kisah cerita nenek moyang kita kembali untuk merangkai dalam suatu cerita yang menurut saya adalah merupakan catatan yang hilang," ujarnya.

Dia berharap di Provinsi Lampung akan berdiri sebuah perpustakaan yang akan menjadi rujukan tentang budaya Lampung. Seperti terbentuknya sanggar-sanggar seni, penerbitan buku-buku sejarah hingga membuat film kolosal dokumenter tentang budaya Lampung. "Seperti halnya tentang Tubaba ini, yang memiliki keterkaitan dengan kejayaan Kerajaan Tulangbawang di masa lampau akan sangat menarik jika difilmkan nantinya," kata dia.

Sementara itu, Direktur Festival Tubaba 2019, Semi Ikra Anggara mengatakan festival tersebut digelar sebagai motivator tentang  visi sebuah kota dari generasi muda di Tubaba. "Maka visi tersebut akan kita lihat dalam presentasi karya mereka di dalam seni rupa berbagai tematik dan teknik akan terurai dalam setiap karya rupa mereka," kata Semi.

"Tentu saja penampilan kesenian dari generasi muda, bukan berarti melupakan kesenian yang telah lama tumbuh di masyarakat. Akan kita saksikan pula gitar klasik Lampung, kulintang, dzikir Lampung, ngediao atau bebandung, reog, jaipong, dan baleganjur. Sejumlah ekspresi seni tradisional yang juga menandakan multikulturalisme masyarakat Tubaba," ujar dia.

EDITOR

Ahmad Sobirin

loading...




Komentar


Berita Terkait