#Peternakan
Pelatihan Asisten Teknis Reproduksi

Puluhan Petugas Disnak Dilatih Soal Reproduksi

( kata)
Puluhan Petugas Disnak Dilatih Soal Reproduksi
Foto Dok Disnakbun Lamteng

GUNUNG SUGIH (Lampost.co) -- Puluhan petugas paramedik veteriner antusias mengikuti pelatihan Asisten Teknis Reproduksi (ATR) yang dilaksanakan Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Lampung Tengah (Lamteng) bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BPPKH) Cinagara, Bogor.

Pelatihan ATR perdana di Lampung ini diikuti 88 peserta dari tiga kabupaten. Sebanyak 55 peserta dari Lampung Tengah, 22 dari Lampung Timur, dan 11 peserta dari Lampung Selatan. Pelatihan selama 12 hari yang dipusatkan di LEC Paramarta, Kecamatan Seputihbanyak ini dibagi menjadi dua sesi, teori dan praktek kandang. Pelatihan teori mulai 21 sampai 26 Oktober 2019, kemudian, sesi kedua mulai 26 Oktober hingga 2 November berlangsung di wilayah kerja masing-masing petugas dengan melaporkan secara open kamera kepada koordinator.

Salah satu peserta, Almakmum mengatakan pelatihan ini menjadi momen yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Selain murah, sertifikat yang didapat dari pelatihan dikeluarkan langsung dari BBPKH Cinagara Bogor yang merupakan lembaga resmi di bawah Kementerian Pertanian.

"Sertifikat ATR dari sini, merupakan salah satu syarat kita sebagai petugas untuk mendapatkan sertifikasi dan izin praktek sesuai dengan peraturan pemerintah," terangnya, Senin 28 Oktober 2019.

Kadisnakbun Lamteng Taruna Bifi Koprawi melalui Kasi Pembibitan dan Produksi drh. Budi Prasetyo mengatakan bahwa pelatihan ATR memang berbiaya Rp6.100.000 sesuai dengan aturan BBPKH Cinagara. 

"Karena kita bekerjasama dengan BBPKH Cinagara, sertifikat ditandatangani oleh kepala balai. Bukan oleh Kadisnakbun Lamteng. Sehingga kita mengikuti aturan dari BBPKH Cinagara. Artinya semua RAB diatur oleh pihak balai besar, bukan oleh kabupaten. Kita hanya menyetorkan dana yang akan mereka kelola. Kemudian pihak balai membagi besaran dana, mana yang dikelola balai dan mana yang dikelola oleh pihak penyelenggara," jelasnya.

Menyikapi aturan itu, akhirnya pihak penyelenggara dan peserta bermusyawarah untuk menentukan kebutuhan anggaran. Memang, kegiatan itu dianggarkan dari APBD. Namun besaran anggaran dengan jumlah peserta tidak sesuai.

"Apabila pelatihan secara swadaya besaran dana itu adalah Rp2,5 juta per orang. Lebih murah dibandingkan pelatihan di balai besar langsung. Sedangkan untuk petugas asal Lamteng disumbang dengan dana anggaran APBD yang diberikan dinas kepada panitia Rp36 juta. Sementara petugas yang mau mengikuti pelatihan dari Lamteng sebanyak 55 orang, sehingga tidak tercover dengan dana sebanyak itu. Belum lagi dana untuk penyewaan sapi serta dana resiko sapi apabila terjadi keguguran atau sakit parah pasca pelatihan," ucapnya.

Sekretaris Disnakbun Nur Rokhmad menegaskan bahwa Pemkab Lamteng sangat konsen dalam penanganan masalah gangguan reproduksi pada sapi. Salah satu langkah yang diambil, dengan menggelar pelatihan ATR bagi para petugas yang selama ini mengabdi di wilayah Lamteng. “Kita ketahui, masalah gangguan reproduksi sangat besar pengaruhnya terhadap penambahan populasi sapi yang berada di wilayah kita,” ujarnya.

Gangguan reproduksi yang dimaksud, yakni sapi memiliki angka kelahiran rendah dengan jarak kebuntingan cukup lama. Dengan pelatihan ini, para petugas diberikan materi ATR agar kompetensinya meningkat. 

 

EDITOR

Winarko

loading...

Berita Terkait

Komentar