#internasional#beritainternasional

Puluhan Pemukim Israel Kembali Terobos Kompleks Masjid Al Aqsa

Puluhan Pemukim Israel Kembali Terobos Kompleks Masjid Al Aqsa
Polisi Israel bersiaga di luar Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 September 2021. Emmanuel Dunand / AFP


Yerusalem (Lampost.co) -- Puluhan pemukim Israel menerobos kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur untuk melakukan doa senyap, menurut keterangan kantor berita Wafa, Minggu, 10 Oktober 2021. 

Para pemukim itu masuk ke kompleks Al-Aqsa melalui Gerbang Al-Mughrabi di bawah perlindungan kepolisian Israel.

Jajaran staf Departemen Sumbangan Islam yang mengawasi operasi situs-situs suci di Yerusalem mencoba menghentikan para pemukim. Namun upaya mereka digagalkan kepolisian Israel.

Pekan kemarin, seorang hakim Israel mengeluarkan putusan yang membolehkan pemukim Yahudi untuk melakukan doa senyap di dalam kompleks Al-Aqsa. Ia menyebut ritual semacam itu bukanlah sebuah aksi kriminal.

Keputusan hakim memicu kecaman internasional. Menurut media Israel, Pengadilan Sentral Israel di Yerusalem Timur membatalkan putusan hakim terkait pemukim di Al-Aqsa.

Namun, menurut pengacara asal Palestina, Khaled Zabarqa, sejauh ini tidak ada putusan pengadilan yang membatalkan keputusan hakim. Ia menilai kabar tersebut hanyalah strategi Israel dalam mengaburkan opini publik.

"Sampai saat ini tidak ada putusan pengadilan yang membatalkan keputusan hakim terkait doa senyap Yahudi di kompleks (Al-Aqsa)," tegas Zabarqa.

Kepolisian Israel membolehkan pemukim Israel untuk memasuki kompleks Al-Aqsa sejak 2003, terlepas dari kecaman yang terus dilayangkan Departemen Sumbangan Islam.

Masjid Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga bagi Muslim di Yerusalem. Yahudi menyebutnya sebagai Temple Mount, mengklaim dua kuil mereka pernah berdiri di sana pada dahulu kala.

Israel menduduki Yerusalem Timur tempat berdirinya Al-Aqsa dalam perang Arab-Israel di tahun 1967. Israel menganeksasi keseluruhan Yerusalem di tahun 1980, sebuah langkah yang hingga kini tidak diakui komunitas internasional.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait