#pendidikan

PTS Kurang Sehat Dinilai Akibat Dikotomi Pemerintah

PTS Kurang Sehat Dinilai Akibat Dikotomi Pemerintah
Aptisi. Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Budi Djatmiko menilai adanya praktik dikotomi antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Hal itu menjadi penyebab utama PTS tidak sehat. 

Hal itu dilihat dari sisi anggaran yang dikucurkan antara PTN dan PTS yang tidak seimbang.

"Ada sekitar 4520 PTS dan PTN hanya 175. Jumlah PTS 96% dan PTN hanya 4%, tetapi anggaranya berbanding terbalik. Anggota Aptisi hanya mendapatkan porsi di bawah 10% dari anggaran APBN bagi perguruan tinggi," kata Budi, Kamis, 13 Oktober 2022. 

Menurut dia, minimnya anggaran membuat PTS kecil dengan jumlah mahasiswa di bawah 1.000 mengalami kesulitan. 

"Artinya PTS yang jumlah mahasiswa menengah kecil dengan sendirinya terancam tutup dan itu 90% dari jumlah PTS yang ada. Sedangkan ukuran kesehatan PTS dalam hal ini dilihat dari kemampuan finansial kampus, kemampuan memiliki dan mengadakan sarana dan prasaran perkuliahan. Khusunya kepemilikan tanah sebagai persyaratan pendirian perguruan tinggi," jelasnya. 

Sementara 90% PTS kecil tidak memiliki tanah atas nama yayasan, tidak memiliki gedung, peralatan laboratorium memadai, dan berstandar tinggi.

"Diperkirakan hanya 10% PTS yang memiliki tanah dan sarana-prasarana yang standar tinggi. Semestinya Kemendikbud memperhatikan PTS-PTS kecil dari sisi bantuan. 

 

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait