#pencabulan#guruhonorer#diberhentikan

Proses Hukum Lanjut, Disdikbud Lamtim Keluarkan Oknum Guru Asusila  

Proses Hukum Lanjut, Disdikbud Lamtim Keluarkan Oknum Guru Asusila  
Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur. (Foto:Lampost/Arman Suhada)


Sukadana (Lampost.co)--Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lampung Timur telah mengeluarkan Hermanto alias HR (40) dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebagai tenaga pendidik di Lampung Timur. 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lampung Timur, Marsan, saat dikonfirmasi Lampost.co, Kamis, 4 Agustus 2022. 

Keputusan itu diambil setelah yang bersangkutan diberhentikan oleh kepala sekolah tempatnya mengajar. 

"HR dikeluarkan oleh Disdikbud dari Dapodik, lantaran pelaku melakukan tindakan asusila terhadap siswa didiknya yang masih SD dan HR telah diamankan pihak Kepolisian Polres Lampung Timur," ujar Marsan.

Berita Terkait: Kadisdikbud Lamtim akan Panggil Guru Honorer Lakukan Pelecehan

Pihaknya menjelaskan telah melakukan pemanggilan terhadap kepala sekolah tempat HR mengajar.

"Kami (Disdikbud) telah melakukan pemanggilan dan klarifikasi terhadap kepala sekolahnya kemarin, Rabu, 3 Agustus 2022," ujarnya. 

Ia menuturkan pihak sekolah tersebut telah memberhentikan HR sebagai guru honorer di sekolah tersebut.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pembinaan kepada guru-guru yang ada di Lampung Timur. 

"Tentu nantinya akan kita lakukan pembinaan dan sesegera mungkin untuk mengumpulkan kepala sekolah dari SD sampai SMP di Lampung Timur," sambungnya.

Sementara, Kasat Reskrim Polres Lampung Timur, Iptu Johannes Erwin Parlindungan Sihombing, mengatakan, saat ini Hermanto telah ditetapkan sebagai tersangka. 

"Untuk HR telah kita tetapkan sebagai tersangka dan sudah kita tahan di Mapolres Lampung Timur," kata Iptu Johannes, Kamis, 4 Agustus 2022. 

Ia mengungkapkan, saat ini pihaknya masih akan melakukan pelengkapan berkas dalam perkara ini.

"Masih melengkapi berkas, dan jika telah lengkap, akan kita serahkan kepada Kejaksaan setempat," ujarnya.

Selain itu, ia menuturkan, Hermanto dijerat dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara. 

"Kita kenakan Pasal 82 UU RI no 17 tahun 2016 tentang penetapan PERPU no 1 tahun 222 tentang perlindungan anak, dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara," pungkas Marsan. 

EDITOR

Sri Agustina


loading...



Komentar


Berita Terkait