#Bansos

Program Sembako Lampura Diduga Jadi Ajang Bancakan Oknum TKSK

Program Sembako Lampura Diduga Jadi Ajang Bancakan Oknum TKSK
Kediaman salah satu warga Kota Alam, Kecamatan Kotabumi Selatan yang dijadikan sebagai tempat e-warung yang diduga dikendalikan oknum TKSK setempat. Lampost.co/Fajar Nofitra


Kotabumi (Lampost.co) -- Oknum tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara (Lampura) berinisial E disinyalir mengendalikan warung elektronik (e-warung) yang melayani pendistribusian program sembako murah. 

Berdasarkan informasi di lapangan, tempat menggesek atau e-warung sengaja ditempatkan di salah satu rumah warga yang berada tak jauh dari kediaman sang oknum. Guna menutupinya, E menggunakan sistem sewa.

Sebelumnya secara terbuka pengoperasian e-warung itu dilaksanakan di rumah sang oknum sampai seiring perjalanan waktu dipindahkan hingga terkesan e-warung tersebut tidak dikelolanya sendiri. 

Padahal dalam praktiknya, pengoperasian e-warung tetap dilakukan istri E. Selain ditempati untuk pembagian, ternyata pemilik rumah pun bekerja membantu. Mulai dari membersihkan barang, membereskan yang rusak, atau lainnya. 

Parahnya lagi, dari setiap kali realisasi, selalu ada saja barang sisa seperti beras, telur, dan lainnya yang dibawa pulang.

"Jadi bukan hanya ditempati, tapi juga harus ikut membantu. Minimal membereskan barang yang akan dibagikan kepada warga menjadi sasaran atau keluarga penerima manfaat (KPM), seperti misalnya membersihkan telur serta membereskan bila ada rusak akibat jatuh dan lainnya," kata sumber yang enggan disebutkan namanya kepada Lampost.co, Rabu, 27 Januari 2021.

Setiap kali pembagian, menurutnya, hanya diberi uang sewa sebesar Rp150 ribu. Padahal, selain ditempati, sang pemilik juga turut membantu E sehingga tidak terlalu tampak dilihat warga di sana dan berpikiran si pemilik rumah adalah pelaksana e-warung.

"Padahalkan kami hanya ketempuhan tempat saja. Selain dipakai melaksanakan pembagian sembako juga sering bantu-bantu di sana," tambahnya.

Selain itu, barang yang dibagikan tidak selalu habis. Menurut sumber, sisa barang seperti beras, telur, dan lainnya dan kesemuannya dibawa pulang untuk dibagikan di periode selanjutnya.

"Ya  kami hanya bisa pasrah, karena tidak tahu seperti apa teknisnya. Ikut saja apa yang mereka lakukan," kata dia. 

Lampost.co mendatangi e-warung tersebut. Di sana tak ada papan informasi atau banner yang menandakan sebagai tempat penyaluran program sembako atau dikenal luas sebagai bantuan non-tunai (BPNT) pengganti raskin.

Hanya ada secarik kertas yang terpasang di bagian depan menginformasikan itu adalah tempat penyaluran prosem. Pemilik mengaku rumahnya hanya dipakai untuk menyimpan dan menyalurkan program yang diperuntukkan warga kurang mampu itu. Tak ada hitam di atas putih.

"Saya ini hanya dititipi. Rumah saya dipakai untuk menampung sembako sekaligus tempat orang-orang mengambil paket sembakonya. Sebelumnya kerjaan ini di rumahnya (E) saya baru dititipkan kalau tidak salah sekitar lima bulanan dan jumlah penerima berkisar 500-600 KPM, "ujarnya.

Belakangan, diketahui nama warung elektronik yang diduga dikendalikan oknum TKSK itu murni untuk kepentingan pribadinya. Demi meraup untung, yakni e-warung Gotong-Royong berada di Kelurahan Kota Alam yang melayani dua kelurahan di kecamatan setempat, yakni Tanjung Harapan dan Kota Alam tanpa memandang sebelumnya sebagai tempat berusaha (warung) sesuai pedoman pelaksanaan Prosem 2021.

"Kadang ada beberapa ibu di daerah sini membantu, sekitar empat orang dengan upah Rp50ribu-100 ribu per pembagian," pungkasnya.

Saat dihubungi, oknum TKSK berinisial E tidak memberikan jawaban. Begitu pun dengan pesan daring (Whatsapp), hanya ada tanda ceklis dua kali sebagai tanda pesan telah diterima. Namun, sampai dengan malam tidak ada jawaban.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait