#g20#umkm

Produk UMKM NTT Dikenal Dunia lewat Pertemuan Kedua Sherpa G20

Produk UMKM NTT Dikenal Dunia lewat Pertemuan Kedua Sherpa G20
Produk UMKM NTT Dikenal Dunia lewat Pertemuan Kedua Sherpa G20. (Foto:MI)


Labuan Bajo (Lampost.cco)--Pertemuan kedua atau 2nd Sherpa Meeting Presidensi G20 pada 10-13 Juli 2022 di Labuan Bajo, Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi ajang promosi efektif produk lokal usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) NTT. Pelaku ekonomi kreatif (ekraf) setempat pun antusias dan bangga dengan event internasional itu.

Bagaimana tidak bangga, dalam acara 2nd Sherpa Meeting itu hadir secara fisik 19 negara anggota G20, 9 negara undangan, dan 10 organisasi internasional. Hanya satu negara anggota G20 yang hadir virtual yakni Amerika Serikat (AS).

Pantauan InfoPublik, di sekitar lokasi persidangan utama di Hotel Meruorah Labuan Bajo, digelar pula pameran produk UMKM yang menambah semaraknya acara. Beberapa produk lokal yang dipamerkan di antaranya, kain tenun, cinderatama, kopi arabika Flores dan produk lainnya.

Pemilik Sentra Tenun Ikat Forlavivian, Wati Ontong, menyatakan bahwa pameran itu menjadi salah satu kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada seluruh delegasi G20 dari mancanegara.

"Momen seperti itu menjadi kesempatan kami untuk promosi, sehingga bisa dikenal ke mancanegara," kata Wati Ontong, saat ditemui InfoPublik di Hotel Meruorah Labuan Bajo, Minggu, 10 Juli 2022.

Menurut Wati, semua produk yang dipamerkan merupakan buatan asli dari penduduk Manggarai Barat (Mabar) di antaranya, kain tenun khas NTT, anyaman, topi, baju, selendang, tas dan lainnya.

Harga produk yang dipasarkan berkisar Rp120 ribu- Rp250 ribu untuk selendang. Sedangkan untuk baju atau kain panjang 4 meter harga berkisar Rp600 ribu- Rp2,5 juta.
Untuk pembuatan satu buah sarung, terang Wati, rata-rata penenun membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Hal itu dikarenakan rata-rata mereka berprofesi sebagai petani, sehingga dibuat dengan memanfaatkan waktu senggang untuk menenun.

"Mereka menggunakan waktu yang tersisa untuk menenun. Itu juga sudah dijadikan lahan pencarian utama mereka, karena permintaan sudah cukup besar," terang dia.

Menurut dia, event-event besar yang diselenggarakan, khususnya di Labuan Bajo juga menjadi kesempatan pelaku UMKM bangkit akibat pandemi Covid-19.

Ia pun mengakui bahwa Pemerintah Daerah dan Pusat sudah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap para pelaku UMKM beruapa pelatihan SDM, pengemasan produk dan lainnya.

"Kami sangat terbantu. Selama ini pemerintah daerah dan pusat juga selalu memberikan pelatihan untuk kami," kata dia.

Wati Ontong pun berharap Pemerintah terus menyelenggarakan iven- iven serupa di Labuan Bajo agar perekonomian pelaku UMKM lokal bisa terus meningkat.

"Saya berharap event seperti ini terus dilaksanakan di Labuan Bajo, sehingga kami para pelaku UMKM ada pemasukan dan produk kami dikenal oleh dunia luar," ujarnya.

Pelaksanaan Sherpa Meeting kedua di Labuan Bajo ini diikuti seluruh negara anggota G20, dengan 19 anggota G20 hadir secara fisik dan 1 secara virtual.  Turut hadir juga 6 negara undangan dan 9 organisasi internasional.

Baik Menko Perekonomian Airlangga Hartarto maupun Menlu Retno Marsudi, sama-sama hadir memberikan sambutannya secara virtual.

Pertemuan Sherpa ke-2 di Labuan Bajo dilaksanakan back-to-back dengan pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri G20 di Bali yang berlangsung 7-8 Juli 2022, dan pertemuan tingkat Deputi Keuangan dan Bank Sentral G20 pada 13-14 Juli 2022 di Bali.

Sherpa ke-2 di Labuan Bajo itu diselenggarakan pada 9-13 Juli 2022. Labuan Bajo dipilih sebagai tempat penyelenggaraan untuk mendorong pemulihan ekonomi dan mempromosikan Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata premium bagi turis mancanegara.

EDITOR

Sri Agustina


loading...



Komentar


Berita Terkait