#perang#rusia#ukraina

Presiden Ukraina Lolos dari Upaya Pembunuhan

Presiden Ukraina Lolos dari Upaya Pembunuhan
Presiden Ukraina Vladimir Zelensky. Foto: AFP


Kiev (Lampost.co) -- Sebanyak dua regu kematian elite Chechnya yang dikirim untuk membunuh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah ‘dinetralkan’. Klaim itu keluar dari laporan intel dari pasukan keamanan Rusia yang bersimpati kepada Ukraina.

Oleksiy Danilov, Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina mengatakan, di TV Ukraina Selasa bahwa sumber-sumber di dalam FSB Rusia memberi laporan intelijen kepada Kiev yang diperlukan untuk melacak para pembunuh.

“Mereka dibagi menjadi dua kelompok, kami melacak para pembunuh,” kata Danilov, menurut sebuah laporan di The New Voice of Ukraina, yang dikutip The New York Post, Rabu 2 Maret 2022.

“Satu kelompok ditangani di dekat Hostomel (barat laut Kiev), yang lain ada di depan mata kami,” jelas Danilov.

“Kami tidak akan menyerahkan presiden kami, negara kami. Ini tanah kami, pergilah,” tambah Danilov.

Menurut intelijen AS, Rusia meluncurkan invasi ke Ukraina 24 Februari dengan tujuan untuk "memenggal" pemerintah Ukraina yang pro-Barat. Mereka dituduh akan menempatkan pemerintahan yang bersahabat dengan Moskow.

Zelensky sendiri mengatakan, dia berharap menjadi sasaran pada awal permusuhan minggu lalu dan memberi tahu para pemimpin Eropa dalam pesan video: "Ini mungkin terakhir kali Anda melihat saya hidup."

Tidak segera jelas berapa banyak pembunuh yang terbunuh atau ditangkap pada Selasa.

Ramzan Kadyrov, pemimpin Chechnya dan sekutu Putin, mengonfirmasi kehadiran pejuang Chechnya di Ukraina pekan lalu. Dia juga mendesak Ukraina untuk menggulingkan pemerintah mereka.

Orang-orang Chechen bukan satu-satunya yang diyakini memburu Zelensky. Anggota Grup Wagner -,pasukan tentara bayaran Rusia yang kejam yang diduga telah melakukan kejahatan perang atas nama Kremlin di Suriah dan Republik Afrika Tengah,- diperkirakan beroperasi di Ukraina dengan perintah untuk membunuh presiden.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait