#penikaman#syekhalijaber

Polresta Kebut Lengkapi Berkas Penikaman Syeh Ali Jaber

( kata)
Polresta Kebut Lengkapi Berkas Penikaman Syeh Ali Jaber
Polisi menggelar rekonstruksi di dua lokasi yakni di rumah pelaku, yang terletak di gang Kemiri, Jalan Tamin, Sukajawa, dan Masjid Falahudin, Kamis, 17 September 2020. Sukisno


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Polresta Bandar Lampung terus melengkapi berkas perkara guna pelimpahan tahap satu kasus penikaman ulama Syekh Ali Jaber dengan tersangka Alfin Andrian (24). Sejumlah saksi sudah dimintai keterangan.

"Masih proses kelengkapan berkas perkara, kemarin sudah olah TKP. Dalam waktu dekat diharapkan rampung dan langsung kami limpahkan," ujar Kapolresta Bandar Lampung Kombes Yan Budi Jaya, Jumat, 18 oktober 2020.

Hingga kini total sudah 17 saksi yang telah diperiksa. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari kerabat pelaku, panitia penyelenggara acara di Masjid Falahudin, sampai saksi ahil (medis dan psikiater. "Kami sudah memeriksa 17 saksi dari berbagai unsur. Kami rasa untuk sementara jumlah saksi yang diperiksa sudah cukup," ujarnya. 

Terkait hasil pemeriksaan kejiwaan pelaku, Yan Budi belum bisa memaparkan. Selain sedang dalam proses, hal tersebut juga masuk ke dalam ranah teknis penyidikan.

"Sementara sudah semua, kami fokus ke penyidikan, kelengkapan berkas, nanti dilimpahkan ke jaksa penuntut. Apa hasil telitinya bakal kami lengkapi," katanya.

Berita terkait: Peragakan 17 Adegan, Begini Kronologi Penikaman Syekh Ali Jaber

Sementara itu, informasi yang didapat Lampost.co, Senin, 21 September 2020, berkas tahap pertama kasus tersebut bakal dilimpahkan ke Kejari Bandar Lampung. Kejari setidaknya akan menyiapkan tujuh jaksa senior sebagai tim jaksa penuntut.

Penyidik telah mengirim surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) perkara pada 15 September 2020 yang lalu, dengan Nomor : SPDP/228/IX/2020/Reskrim. Pelaku dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 340 KUHP jo Pasal 53 KUHP tentang Percobaan Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun subsider. Kemudian Pasal 338 KUHP jo Pasal 53 KUHP tentang Percobaan Pembunuhan dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun subsider.

Selanjutnya, Pasal 351 Ayat (2) KUHP tentang Penganiayaan yang Mengakibatkan Luka Berat dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun. Terakhir, Pasal 2 Ayat (1) UU Darurat No. 12 Tahun 1951 tentang Tanpa Hak Menguasai dan Membawa Senjata Tajam dengan ancaman pidana penjara setinggi-tingginya 10 tahun.

Polisi juga sudan melakukan rekonstruksi penikaman Syekh Ali Jaber pada Kamis, 17 September 2020.  Pelaku total melakukan 17 adegan di dua lokasi, yakni rumah nenek pelaku di Jalan Tamin, Gang Kemiri, Kelurahan Sukajawa, dan Masjid Falahudin.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad menyebutkan tidak ditemukan adanya orang lain yang menunggangi pelaku dan juga motif korban memang terasa terganggu dengan ceramah atau konten Syeh Ali Jaber. Apalagi ia mendengar suara pengeras masjid, ketika Syeh Ali Jaber sedang berada di Masjid Falahudin.

"Ada 17 adengan sesuai dengan BAP, sesuai yang diyakini penyidik, dan pelaku serta disaksikan jaksa Kejari Bandar Lampung. Selain SPDP, kami juga sudah mengirimkan  SP2HP," ujar Pandra, Kamis, 17 September 2020.

Terkait video permintaan maaf keluarga korban dan klaim pelaku pernah berobat di Klink Kejiwaan Mitra Keluarga di Gedungtataan, Pandra menyatakan hal itu tidak memengaruhi proses penyidikan. Setiap keterangan dari saksi, hanya bersifat pelengkap dalam berkas perkara.

Informasi yang didapat lampost.co, memang ditemukan adanya rekam medik, namun sekitar beberapa tahun yang lalu. Sehingga obeservasi ulang memang dibutuhkan oleh penyidik.

"Penyidik Satreskrim Polresta Bandar Lampung tetap melakukan pemberkasan tentang adanya informasi tersebut, termasuk hasil observasi psikater yang memakan waktu 14 hari, sifatnya hanya pelengkap, tapi berkas perkara tetap kami ajukan ke JPU dan dilengkapi dengan rekonstrusi serta 17 saksi yang diperiksa. Saat ini hanya rekonstruksi, kalau hal lain itu ada di penyidik," ujarnya.

Rahman Irwandi, paman tersangka, mengatakan sejak tingggal di Bandar Lampung sepulang dari Rawajitu Mesuji, pelaku memang selalu menyendiri dan berbicara sendiri. "Kesehariannya, saya sih enggak satu rumah, tapi cerita dari adek-adek saya di rumah ibu, kesehariannya dia selalu menyendiri semenjak pulang enggak pernah keluar rumah, dia ngelamun aja," ujarnya.

Terkait informasi kalau pelaku memiliki riwayat kejiwaan, sang paman mengamini. Namun, dia menyebut keponakannya depresi.

Dia juga membenarkan kalau keponakanya pernah menjalani perawatan di Klinik Kejiwaan Mitra Keluarga, Gedongtataan, Pesawaran. "Iya, waktu itu 2016 saya yang mengantarkan dan membawa ke klinik dr. Edi di Tataan sana (Pesawaran), sekitar 4 hari. Untuk hasilnya saya lupa waktu dr. edi ngomong, cuma keluar dari situ diambil langsung pihak keluarga. Dia kadang ngoceh aja, tutup kuping, cecudahan (meludah), kadang ngomong sendiri," ujarnya.

Di media sosial banyak isu dan informasi terhadap keponakannya, seperti simpatisan PKI hingga dituding menusuk Syeh Ali Jaber atas perintah orang lain karena butuh biaya untuk melahirkan sang istri. Pelaku memiliki latar belakang hanya kelas 3 SMP swasta di Bandar Lampung, dan memiliki dua adik.

"Kaget saya, isu PKI, isu disuruh orang. Pacaran saja enggak, kenal cewwk saja enggak, mau ngelahirin istrinya saja enggak ada, dia saja belum nikah. Dia mulai depresi semenjak sang ibu berangkat jadi TKW ke Hong Kong. Pernah jam tiga subuh dibawa kawannya dari Kemiling, disitulah dia mulai depresi, kadang disembuhin enggak bisa, tahu-tahu sembuh sendiri," katanya.

Ia berharap agar hukuman untuk keponakannya diberikan seadil-adilnya. "Harapan keluarga minta yang seadil-adilnya karena kondisi keluarga seperti itu, bukan ada rencana. Agar bisa  segera berobat," ujarnya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait