#NARKOTIKA#SABU#POLDALAMPUNG#PELABUHAN

Polda Lampung Gagalkan Penyelundupan 29 Kg Sabu dan 5 Ribu Butir Pil Happy Five

Polda Lampung Gagalkan Penyelundupan 29 Kg Sabu dan 5 Ribu Butir Pil Happy Five
Kasubdit 1 Ditresnarkoba Polda Lampung AKBP Ujang Suprianto dan Kasubdit Penmas Bidhubmas Polda Lampung AKBP Rahmat Hidayat menunjukkan barang bukti dalam konferensi pers di Mapolda Lampung, Selasa, 20 September 2022. Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Lampung menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu seberat 19 kilogram dan 5.000 butir pil happy five di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.

Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Lampung AKBP Ujang Suprianto mengatakan pengungkapan itu berawal ketika petugas Ditresnarkoba melakukan sweeping di Seaport Interdiction Pelabuhan Bakauheni pada 22 Agustus 2022, sekitar pukul 22.30 WIB.

"Kemudian melihat bus yang dicurigai sehingga polisi melakukan pemeriksaan di dalam bus yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa," kata dia dalam konferensi pers, Selasa, 20 September 2022.

Saat diperiksa, petugas menemukan sebanyak 16 bungkus kotak kue yang di dalamnya ternyata berisi narkotika. Barang itu dibawa oleh dua orang berinisial PT (32) dan AG (39) warga Sumatera Utara.

"Kemudian kami langsung bawa ke Mapolda Lampung, dari hasil pemeriksaan barang tersebut akan dikirim ke Jakarta," kata dia.

Keesokan harinya, polisi meringkus pelaku ZL yang berperan sebagai penerima narkotika dari kedua tersangka. Dari tangan ZL polisi menyita satu unit ponsel yang digunakan untuk berkomunikasi.

Komplotan pelaku ini merupakan jaringan lintas provinsi. Modus yang mereka gunakan terbilang baru, dengan cara membungkus narkotika ke dalam kotak kue untuk mengelabui petugas. "Pengakuan mereka baru satu kali ini  beraksi, tapi tetap kami kembangkan," kata dia.

Atas perbuatannya, para pelaku dikenakan Pasal 114 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Penyalahgunaan Narkotika dengan ancaman pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait