#udang#pln#dipasena

PLN Denyutkan Kembali Nadi Dipasena

PLN Denyutkan Kembali Nadi Dipasena
Slamet bersiap menebar pakan ke tambak udang vaname miliknya di Kampung Bumi Dipasena Sejahtera, Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang. Lampost.co/Setiaji Bintang Pamungkas


Bandar Lampung (Lampost.co) Slamet (48) bergegas menuju tambak udang miliknya pada pukul 07.00. Cuaca pagi cukup bersahabat. Angin laut yang sejuk menyentuh caping dan helai rambutnya. 

Sembari melangkah ke tepian, ia membawa satu ember penuh berisi pakan untuk ditebar ke kolam berisi udang vaname berumur 1,5 bulan. 

Setelah memberi asupan hewan berhabitat iklim sub-tropis itu, Slamet bergegas memencet saklar untuk menghidupkan dua mesin kincir yang berputar di tengah tambak berukuran 45x50 meter. 

Kemudahan mengaktifkan kincir sebagai penyuplai oksigen untuk vaname tersebut telah ia rasakan lebih dari setahun lalu, tepatnya setelah Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyelesaikan pembangunan jaringan listrik pada Juni 2020.

Ia mengenang betapa berat perjuangan para pembudidaya udang untuk mempertahankan tambaknya agar tetap berproduksi, jauh sebelum tersedia aliran listrik dari perusahaan BUMN tersebut. 

Ketika itu, Slamet yang memiliki dua kolam tambak di Kampung Bumi Dipasena Sejahtera, Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang hanya mengandalkan genset sebagai sumber tenaga untuk memutar empat kincir di dua petak tambak miliknya. 

Ia kerap direpotkan saat menghidupkan dan melakukan pemeliharaan genset.

"Kalau dulu bisa lima kali engkol genset dalam sehari," kata dia, Minggu, 12 Desember 2021.

Baca: PLN Amankan Pasokan Listrik di Sumatera Selama Nataru

 

Belum lagi jika genset mengalami kerusakan hingga terjadi kelangkaan solar sebagai bahan bakar. 

Slamet yang juga berprofesi sebagai guru di SMP Negeri 2 Rawajitu Timur itu menjelaskan kincir harus berputar tanpa henti jika ingin  mendapatkan hasil panen yang maksimal. Konsekuensinya, biaya pembelian bahan bakar akan membengkak. Selain itu, genset tidak bisa dipaksakan hidup selama 24 jam nonsetop. 

Hal itu membuat Slamet hanya berani menebar 100 ribu benih yang dibagi rata di kedua kolamnya. Dengan begitu, ia cukup mengoperasikan kincir selama 12 jam saja.  

"Malam hari minim oksigen, jadi  kincir harus tetap hidup hingga pagi," ujar dia. 

Dalam satu siklus yang memakan waktu 2,5 sampai tiga bulan sejak tebar benih hingga panen, genset membutuhkan empat drum solar sebagai bahan bakar. Setiap drum ia beli seharga Rp1,4 juta. 

"Jadi setiap siklus harus keluarkan uang sekitar Rp5,6 juta sampai Rp6 juta untuk beli solar saja," paparnya yang sudah 30 tahun menjadi pembudidayaan udang. 

Kini dilema yang dirasakan Slamet telah sirna. Suplai listrik secara konsisten dapat menekan biaya operasional seluruh pembudidaya hewan invertebrata tersebut. 

Terbukti, ia hanya merogoh kocek sebanyak Rp3-4 juta per siklus untuk membayar tagihan listrik PLN.

"Hemat hampir separuhnya dibanding pakai genset," kata pria paruh baya itu. 

Slamet biasa membayar tagihan listrik melalui Alfamart yang dekat dengan tempat tinggalnya.

"Bayarnya lebih praktis,  bisa pake aplikasi, atau ke Alfamart dan Indomaret," kata dia. 

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah (P3UW) Lampung, Suratman mengungkapkan listrik yang disediakan perusahaan pelat merah efektif mendongkrak hasil panen udang. 

Keandalan energi itu membuat petambak lainnya semakin bergairah untuk menebar benih lebih banyak demi meningkatkan produksi udang vaname.

Ia menjelaskan, ketika masih menjadi mitra perusahaan, produksi per siklus setiap kolam mencapai satu ton dari 50 ribu benih yang ditebar.  

Namun, setelah tidak lagi terikat dengan perusahaan,  petani terpaksa berusaha secara mandiri sejak 2011 hingga 2019 dan ternyata hasilnya tidak memuaskan. Produksi udang vaname turun 50 persen atau hanya 500 kg per kolam setiap siklus. 

"Karena sejak 2011 kami hanya mencoba bertahan sesuai kemampuan yang ada," ujar Suratman yang memiliki dua petak tambak itu. 

Situasi berubah di pertengahan 2020, produktivitas udang melejit hingga 1,6 ton per kolam per siklus. Mereka tidak lagi khawatir menghidupkan kincir dalam waktu lama karena ketersediaan listrik yang konsisten. Hal itu membuat udang tumbuh sehat. 

Melihat kondisi tersebut, sebagian petani bahkan berani menebar hingga 250 ribu benih per kolam.

 

Medan Berat

Asisten Manager Komunikasi dan Manajemen Stakeholder PLN Unit Induk Distribusi (UID) Lampung Darma Saputra menjelaskan PLN mulai membangun jaringan listrik untuk wilayah Bumi Dipasena pada Agustus 2019 dan selesai Juni 2020.

"Durasi pengerjaan memakan waktu 11 bulan. Itu lebih cepat  dari target yang ditetapkan yakni dua tahun," kata dia. 

Kendati demikian, PLN mengalami berbagai kendala saat membangun jaringan listrik, seperti medan berat yang tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan pembawa material konstruksi dan tiang besi. 

"Kendaraan dan alat berat tidak bisa lewat karena kondisi tanah yang labil dan wilayah itu didominasi rawa. Juga tidak tersedianya air yang layak untuk melakukan pengecoran," katanya. 

Alhasil, tiang besi diapungkan melewati kanal atau aliran buatan dengan cara ditarik dengan kapal menuju titik-titik pemasangan tiang. 

PLN juga telah memprediksi kebutuhan listrik di Bumi Dipasena sebesar 60 mega volt ampere (MVA). Setiap tambak membutuhkan energi 10 kilo volt ampere (KVA). 

"Karena sebelumnya setiap pemilik tambak rata-rata menggunakan genset 10 KVA," katanya. 

Selain menghidupkan kincir  untuk 14.400 petak tambak, listrik PLN juga dapat dinikmati oleh 5.769 kartu keluarga (KK) dari delapan kampung di Kecamatan Rawajitu Timur. 

Petambak Dipasena, lanjutnya, juga turut berkontribusi terhadap pemasukan PLN. Pihaknya mencatat, tagihan listrik yang dibayar oleh 7.000 petambak di wilayah itu pada Oktober 2021 menyentuh Rp2,4 miliar. 

Ia menjelaskan, penyelesaian pembangunan jaringan listrik di wilayah pertambakan yang lebih cepat dari target merupakan bukti bahwa pemerintah hadir dan berkomitmen untuk membangkitkan kembali kejayaannya Bumi Dipasena sebagai penghasil komoditas udang terbesar se-Asia Tenggara. 

Upaya keras PLN telah sejalan dengan visi pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)  untuk meningkatkan produksi udang vaname di Indonesia. 

"PLN berupaya menyediakan energi yang bisa mendorong percepatan produksi udang di sana. Tentunya akan berdampak positif untuk perekonomian daerah setempat dan Lampung khususnya," kata Darma.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait