#Imporberas#beras#petani

Petani Takut Impor Beras Bikin Harga Gabah Hancur

Petani Takut Impor Beras Bikin Harga Gabah Hancur
Ilustrasi. Dok. Lampost.co


Kalianda (Lampost.co) -- Rencana Pemerintah Pusat akan melakukan impor beras membuat petani di wilayah Kecamatan Palas, Lampung Selatan, mulai was-was. Pasalnya, petani takut dengan adanya impor beras membuat harga jual gabah anjlok pada musim panen tahun ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, saat ini harga jual gabah kering panen (GKP) di tingkat petani hanya mencapai berkisar Rp3.500-3.700 per kilogram. Harga ini jauh berbeda dibandingkan harga GKP pada musim gadu tahun lalu mencapai diangka Rp4.000 per kilogram.

Kecemasan itu diakui Sekretaris Gapoktan Bersama Desa Bumidaya, Ulil Huda. Dia mengatakan untuk saat ini harga jual GKP pada musim rendeng tahun ini alami penurunan dibandingkan pada panen musim gadu tahun lalu.

“Petani khawatir harga gabah akan terjun bebas pada panen musim rendeng  tahun ini. Padahal, sepekan lagi musim panen akan berlangsung di Kecamatan Palas. Sedangkan, saat ini harga sudah jatuh jika dibandingkan pada musim panen gadu lalu,” ujar dia melalui sambungan telepon, Sabtu, 26 Maret 2021.

Ulil mengatakan untuk saat ini musim panen rendeng tahun ini setidaknya sudah ada hamparan 35 hektare tanaman padi yang sudah dipanen. Baru 7 persen dari total luas tanaman padi di Desa Bumidaya yang mencapai 500 hektare.

“Panen pada musim kali ini hasil produksi GKP juga menurun hanya mampu menghasilkan 6 ton per satu hektare. Tapi, kalau musim gadu kemarin bisa mengjasilkan 7 sampai 8 ton. Jelas penghasilan petani akan merosot," kata dia.

Hal senada diungkapkan, Ketua Gapoktan  Mekarmukti Desa Mekarmulya, Darto. Dia mengaku petani kian cemas dengan adanya rencana pemerintah pusat yang akan melakukan impor satu juta ton beras. Ia menilai impor beras akan mempengaruhi harga jual GKP di tingkat petani.

“Sekarang harga informasnya harga padi GKP berkisar Rp3.600 - Rp 3.700 per kilogram. Bahkan ada yang mencapai Rp3.500. Ini baru awal panen, bagaimana kalau sudah masuk puncak panen. Belum lagi jika beras impor sudah masuk, tentu akan berpengaruh dengan harga GKP,” ujarnya.

Darto bersama petani lainnya berharap pemerintah pusat tidak perlu melakukan impor beras sebagai upaya menjaga stok beras nasional. Sebab, produksi beras nasional dirasa masih mencukup dan dinilak kualitas beras dalam negeri tidak kalah dengan beras impor.

“Untuk saat ini saja, harga sudah turun. Apalagi kalau sudah masuk puncak dan beras impor sudah masuk. Produksi beras nasional sudah banyak, apalagi sekarang sedang musim panen raya. Kami berharap pemerintah tidak perlu mengimpor beras dari luar negeri,” katanya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait