#petanilampung#pertanian

Petani Lampung Didorong Giatkan Tindakan Pascapanen

Petani Lampung Didorong Giatkan Tindakan Pascapanen
Bimbingan teknis petani kakao di Islamic Center Pesawaran, Jumat, 25 November 2022. Lampost.co/Effran


Gedongtataan (Lampost.co) -- Petani kakao di Lampung didorong melakukan tindakan pascapanen terhadap hasil buminya. Pasalnya, langkah tersebut berdampak besar terhadap peningkatan nilai jual.

Subkoordinator Karantina Tumbuhan, Balai Karantina Pertanian Lampung, Irsan Nuhantoro, mengatakan tindakan pascapanen itu dengan melakukan fermentasi.

“Di pascapanen itu kan ada penambahan nilai yang diharapkan petani,” kata Irsan, disela-sela bimbingan teknis di Islamic Center Pesawaran, Jumat, 25 November 2022.

Dia melanjutkan, bimtek tersebut sebagai tindak lanjut terhadap bimtek bulan sebelumnya. Pelatihan lanjutan itu mendorong petani dapat mempraktikkannya dan mengolah sendiri.

“Secara spesifik kemarin mereka dikenalkan budidayanya dan sekarang dikenalkan pascapanen. Agar setelah fermentasi sendiri harga kakao yang mereka jual bisa lebih tinggi sehingga petani sejahtera,” ujarnya.

Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan, Riswanto, kakao di Lampung selama ini dijual dalam bentuk asalan. Hal itu diakui masih menguntungkan karena produksi saat ini tengah tinggi dan membuat harganya tetap tinggi.

Harga itu bisa lebih optimal jika petani dapat melakukan tindakan pascapanen yang membuat nilai jual lebih tinggi. Sebab, kakao secara ekonomi bertentangan dengan kondisi ekonomi. Pada saat kondisi ekonomi resesi harga kakao menjadi naik.

“Tapi pascapanen ini justru tidak pernah dilakukan masyarakat. Mereka hanya belah, jemur, dan jual,” kata Riswanto.

Salah satu langkah yang diperlukan adalah fermentasi dengan prosesnya yang sangat sederhana. “Tapi, petani gak mau ribet,” kata dia.

Dia menguraikan kakao asalan dibeli Rp29 ribu per kg hingga Rp37 ribu per kg. Sementara kakoa fermentasi stabil di angka Rp47 ribu hingga Rp50 ribu per kg.

“Jadi selisihnya Rp17 ribu per kg, hampir 60% dari nilai kakao asalan. Padahal untuk mendapatkan nilai itu hanya butuh proses dan waktu, serta tidak butuh biaya tambahan,” kata dia.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait