#pertanian#agraria#beritalampung

Petani di Sidomulyo Masih Gunakan Jebakan Listrik Tangani Serangan Tikus

Petani di Sidomulyo Masih Gunakan Jebakan Listrik Tangani Serangan Tikus
Lampu di sawah di Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, menjadi tanda adanya jebakan listrik. Lampost.co/Perdhana


Kalianda (lampost.co) -- Ratusan petani di Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, masih menggunakan jebakan listrik untuk mengatasi serangan tikus. Padahal, peralatan itu sangat membahayakan petani.

Seorang petani, Slamet (45), mengaku para petani tidak memiliki jalan lain mengatasi hama tikus selain menggunakan jebakan listrik.

"Sudah segala cara digunakan, tapi ini paling efektif," kata Slamet, Selasa, 8 Maret 2022.

Sebelumnya, petani menggunakan racun dan pagar plastik untuk mengatasi serangan hama tersebut, tetapi tidak berhasil. "Tebar racun tidak dimakan tikus, pasang pagar tetap bisa masuk," ujarnya.

Untuk itu jebakan listrik terpaksa digunakan karena serangan tikus kian mengganas sejak awal musim tanam rendeng sekitar tiga bulan lalu. Dia pun sampai tiga kali menanam bibit padi.

Dengan alat itu, para petani menemukan puluhan ekor tikus mati tersengat listrik dalam setiap petak sawah setiap pagi. Perangkap itu hanya dialiri listrik saat sore sampai pagi.

"Pada waktu usia tanaman hingga dua bulan masih banyak dapat tikus yang tersengat listrik," ujarnya.

Untuk mencegah adanya warga tersengat listrik, petani pun turut memasangi lampu sebagai tanda adanya jebakan listrik di setiap pojok petak sawah.

Petani lainnya, Lima (56), mengatakan memasuki tanaman padi di usia tiga bulan serangan tikus mulai berkurang. Namun, dia tetap enggan melepas jebakan listrik tersebut. "Kami masih takut serangan tikus, maka jebakan listrik masih di pasang," ujarnya.

Kepala Desa Sidowaluyo, Haroni, menjelaskan petani diminta tidak menggunakan jebakan listrik di area sawah. "Di berbagai kesempatan diminta untuk tidak gunakan jebakan listrik," ujarnya.

Sebagai solusi penggantinya, pihaknya pun memberikan bantuan ratusan ekor burung hantu yang menjadi predator alami tikus. "Mereka tolak, karena tidak ada jaminan hama tikus akan musnah," ujar dia.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait