Petanipupuk

Petani di Palas Kesulitan Pupuk Bersubsidi pada Musim Tanam

Petani di Palas Kesulitan Pupuk Bersubsidi pada Musim Tanam
Masa tanam petani. Ilustrasi


Kalianda (Lampost.co) -- Memasuki musim tanam rendeng 2021, sejumlah petani di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, mengeluhkan kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Padahal, petani membutuhkan pupuk pertama untuk tanaman padi. 

Marsono, petani asal Desa Bumiasri, Kecamatan Palas, mengatakan beberapa hari terakhir petani kesulitan mencari pupuk bersubsidi. Padahal, petani membutuhkan pupuk untuk tanaman padi yang berusia 7 - 14 hari setelah tanam (HST). 

"Susah sekarang nyari pupuk bersubsidi. Langka pupuk bersubsidi jenis urea dan phonska. Banyak petani mencari untuk memupuk tanaman padi. Sekarang ini hanya ada yang non subsidi," kata dia, Minggu 10 Januari 2021.

Menurutnya, sebagian petani ada yang menyetok pupuk bersubsidi sejak musim gaduh lalu. Ketersediaan yang ada hanya pupuk jenis urea. "Itu hanya jenis urea saja. Bahkan, jumlahnya belum memenuhi luasan tanaman padi mereka," kata dia. 

Ketua Gapoktan Baliagung, Dewa Aji Tastrawan, mengaku petani di Desa Baliagung menjerit lantaran pupuk bersubsidi tidak ada. Padahal, usia tanaman padi di wilayah itu mencapai 15 HST. 

"Semua petani datang ke rumah nanya soal pupuk. Rasanya saya mau pergi dulu karena pupuk bersubsidi tidak ada. Kasian saya dengan petani tidak ada pupuk" kata dia. 

Dia bersama petani lainnya berharap dalam beberapa hari ke depan tersedia pupuk bersubsidi. "Kami berharap kelangkaan ini bisa diatasi Pemerintah. Khusus di desa kami sudah banyak yang membutuhkan pupuk," kata dia. 

Sementara itu, Plt. Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Palas, Tarmijan mengatakan kelangkaan pupuk bersubsidi dikarenakan adanya Permentan nomor 49 tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sektor pertanian anggaran 2021.

"Permentannya baru keluar. Sudah dijabarkan ke tingkat kecamatan bahwa Senin sudah selesai. Tinggal kios penyalur pupuk bersubsidi menandatangani surat perjanjian jual beli (SPJB) dengan distributor," kata dia. 

Selain sulit didapatkan Harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi dikabarkan juga mengalami kenaikan harga. 

Mengacu Permentan nomor 49/2020 tanggal 30 Desember 2020 harga pupuk jenis urea sebesar Rp2.250/kg atau per sak Rp112.500, ZA Rp1.700/kg atau per sak Rp85.000, SP-36 Rp2.400/kg atau per sak Rp120.000, NPK Phonska Rp2.300 per kg atau per sak Rp115.000 dan Petrogonik Rp800 per kg atau per sak Rp32.000.

Sedangkan, HET lama pupuk bersubsidi jenis urea Rp1.800 per kg, SP-36 Rp2.000; ZA Rp1.400 per kg; NPK Phonska Rp2.300; dan Petroganik Rp500 per kg.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait