#beritalampung#beritalamsel#pupuk

Petani di Baliagung Lamsel Kesulitan Pupuk Bersubsidi Jenis NPK

Petani di Baliagung Lamsel Kesulitan Pupuk Bersubsidi Jenis NPK
Pupuk bersubsidi. Dok/IST


Kalianda (Lampost.co): Sejumlah petani di Desa Baliagung, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, mengeluhkan kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi jenis NPK. Padahal petani setempat sudah membutuhkan pupuk kedua untuk tanaman padi musim gadu 2022.

Seperti yang diungkapkan, salah satu petani di Desa Baliagung, Wayan Angker. Dia mengaku beberapa hari terakhir petani banyak kesulitan mencari pupuk bersubsidi. Padahal, petani sudah mulai membutuhkan pupuk untuk tanaman padi yang berusia 20 - 25 hari setelah tanam (HST).

"Petani pada susah nyari pupuk subsidi yang jenis phonska atau NPK. Kalau pupuk subsidi yang jenis urea ada. Sedangkan, saat ini petani lagi butuh yang jenis NPK," kata dia, Jumat, 26 Agustus 2022, malam.

Dia mengaku sebagian petani sudah pernah berkoordinasi dengan kios penyalur pupuk bersubsidi di desa setempat perihal tersebut. Namun, hasilnya nihil karena pupuk bersubsidi sudah kosong.

"Informasi dari kios sudah habis kuota. Sedangkan, sebagian petani sudah ada yang titip uang duluan untuk pembayaran pupuk bersubsidi itu. Kalau seperti ini, sepertinya petani terpaksa beli pupuk nonsubsidi seharga Rp180 ribu per sak," kata dia.

Hal senada diungkapkan, Made Sujane, petani lainnya. Dia mengaku pupuk jenis NPK Phonska tersebut dinilai penting untuk pertumbuhan tanaman padi. Sebab, NPK Phonska dapat menguatkan batang tanaman, memacu pertumbuhan akar tanaman, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit hingga mampu meningkatkan hasil produksi.

"Memang sudah waktunya saat ini petani butuh pupuk jenis NPK. NPK Phonska ini juga dapat memacu pembentukan bunga dan buah. Petani sudah terbiasa memakai pupuk NPK Phonska," kata dia.

Saat dikonfirmasi, pemilik kios penyalur pupuk bersubsidi di Desa Baliagung, Dewa Aji Tastrawan mengatakan stok pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska didesa tersebut sudah habis kuota. Artinya kebutuhan pupuk bersubsidi sudah terserap semua dari musim tanam pertama (MT1) dan MT2.

"Kuota pupuk subsidi NPK didesa kami sudah habis, mas. Semua kebutuhan pupuk bersubsidi sudah terserap 100 persen. Tahun ini memang ada pengurangan kuota subsidi dari pemerintah, yakni NPK hanya 22 persen dan Urea 56 persen," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait