#PENIPUAN

Peserta Arisan Minta Pengelola Menyerahkan Diri dan Kembalikan Uang

Peserta Arisan Minta Pengelola Menyerahkan Diri dan Kembalikan Uang
Kuasa Hukum para peserta arisan, M Randy Pratama. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sejumlah peserta arisan dan deposito yang merasa tertipu hingga miliaran oleh seorang perempuan yang mengelola kegiatan tersebut. Pelaku yang diduga melakukan penipuan dan penggelapan yakni Elisna Nurfrida warga Sukabumi, Bandar Lampung.


Salah satu  peserta arisan dan juga deposito, Nurul Permata Sari, warga Bandar Lampung mengatakan, uang modal beserta keuntungan dari mengikuti arisan maupun deposito senilai Rp330 miliar kini tidak jelas keberadaannya.

"Saya ikut arisal modalnya Rp216 juta, deposito Rp35 juta, kalau diitung-itung sama keuntungan yang dijanjikan sekitar Rp330 juta," ujar Nurul, Rabu, 26 oktober 2022.

Ie mengaku mengetahui dan mengikuti arisan milik Elisna sejak 2022. Lalu ia mulai mengikuti arisan menurun, lantas ia juga ditawarkan mengikuti sistem deposito. Menurutnya sistem arisan menurun semakin di bawah potensi pendapatan semakin tinggi, hanya saja waktu pencairan lebih cepat peserta yang di atas.

Sementara, sistem deposito para konsumen, ditawarkan menyetorkan uang dengan sejumlah nominal, misalnya Rp10 juta, maka akan dijanjikan mendapat Rp14,5 juta dalam waktu jangak lima bulan.

"Arisan sudah ada beberapa dibayar sebenarnya awal-awal, terus saya juga coba ikut deposito, tapi akhirnya sekarang enggak bisa diambil," kata dia.

Peserta arisan lainnya berinsial AS, warga Tangerang, Banten mengaku merugi hingga Rp299 juta untuk modal, dan Rp600 juta jika dihitung bersama keuntungan dari mengikuti arisan menurun maupun deposito.

"Awal-awal sempat ada yang dibayar misalnya Rp3,5 juta, tapi lama kelamaan awal Oktober macet, enggak bisa dihubungi, pernah dimediasi tapi enggak ada kejelasan, dan titik terang," kata dia.


Para korban pun kini didampingi oleh kuasa Hukum yakni M Randy Pratama. Menurut Randy total sementara korban yang ia advokasi mencapai 60 orang. Setengahnya warga Lampung, dan setengahnya lagi warga Pulau Jawa.

"Kemungkinan ini terus bertambah, karena kan peserta arisan ini ratusan, kami minta yang bersangkutan menyerahkan diri, jangan lari, uang korban dikembalikan, kalau tidak, dalam waktu dekat kami akan melapor ke Polda Lampung" ujar Randy.

Randy mengatakan dari 60 korban yang diadvokasinya, setidaknya mereka mengalami kerugian Rp10 miliar, yang terdiri dari modal dan keuntungan yang dijanjikan. Para peserta arisan dan deposito menyadari kalau pemilik arisan tidak memiliki itikad baik, dan tidak diketahui keberadaannya.

"Ini namanya arisan menurun, dan dikenal sebagai grup aliran Elis, dari para korban, disebutkan elis membentuk grup WA, dan menawarkan agar mengikuti arisan tersebut, dan mendapatkan urutan sebagai member arisan, dan dalam jangka waktu tertentu mendapat uang," ujar Randi.

Nominal peserta arisan untuk satu slot beragam, mulai dari minimal Rp5 juta, Rp10 juta dan lebih. Kemudian, untuk deposito peserta ditawarkan menyimpan uangnya mulai dari Rp10 juta, dan akan ditawarkan mendapatkan uang senilai Rp14, 5 juta.

Para peserta pun sudah mencoba menyambangi kediaman Elisna, namun tidak ada. Bahkan, karangan bunga dari pada peserta arisan yang kecewa pun sudah ada di kediaman Elisna.

"Informasi yang kami dapat mulai Mei, dari Juni sudah ada permasalahan (tak bisa dicairkan) dan memuncak Oktober ini," kata dia.

Randy mewakili puluhan yang ia dampingi, berharap ada itikad baik agar menyerahkan uang peserta dan menyerahkan diri. Lampost.co mencoba mengonfirmasi Elisa Nurfrida, namun dua nomor ponselnya tidak  ada yang aktif.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait