#konflikkebunsawit#beritalamteng

Perusakan Kebun Sawit di Gunungsugih Dibawa ke Ranah Hukum

( kata)
Perusakan Kebun Sawit di Gunungsugih Dibawa ke Ranah Hukum
Alat berat merobohkan pohon kelapa sawit. Foto: Dok

Gunungsugih (Lampost.co): Perkara perusakan atas puluhan batang kelapa sawit di Kampung Komering, Kecamatan Gunungsugih, Lampung Tengah oleh beberapa orang yang mengaku utusan PT Golden Navara bakal masuk ranah hukum. Pasalnya, dua kali undangan mediasi yang difasilitasi pemerintah setempat tak digubris. 

Tua Alpaolo Harahap, selaku kuasa hukum dari pemilik kebun kelapa sawit yang dirusak (Nawawi), mengatakan pihaknya selaku kuasa hukum menilai tidak ada itikad baik dari para pelaku perusakan untuk menyelesaikan permasalahan secara mufakat. Karena itu dalam waktu dekat, selambat-lambatnya awal Agustus 2020, pihaknya akan membuat laporan resmi ke Polres Lamteng.

"Bukti sudah lengkap, tapi masih ada satu berkas yang kurang dan sedang kami persiapkan. Langkah ini kami ambil karena tidak ada itikad baik," kata dia, Selasa, 22 Juli 2020.

Menurut Tua Alpaolo, dua kali upaya mediasi dengan difasilitasi pemerintah kampung maupun Kelurahan Gunungsugih Raya. Namun, di dua kesempatan itu orang-orang yang diduga merusak pohon sawit tidak hadir. 

Selaku kuasa hukum, Tua Alpaolo meminta agar seluruh proses hukum dapat berjalan sesuai aturan. Sebab sebelumnya, kliennya pernah melapor dua kali tapi tak ditanggapi.

"Prinsipnya kami membuka ruang mediasi. Tetapi kami lihat tidak Ada itikad baik, " kata dia. 

Nawawi, warga Kampung Komering yang kebunnya dirusak mengaku tak pernah mendapat peringatan sebelumnya. Sejak 18 tahun lalu tanaman sawit ditanam, tak pernah ada masalah. Baru sekarang setelah waktunya panen ada gangguan. Perusakan pertama terjadi pada 2019 lalu. Dua pohon sawit ditebang dengan gergaji mesin.

"Justru saya yang disangkakan karena dilaporkan mengancam. Sudah lama saya kena wajib lapor," jelas Nawawi. 

Selanjutnya pada 10 Juli 2020 lalu, beberapa orang kembali merobohkan pohon sawit yang ditanam Nawawi menggunakan eksavator.

"Ada 36 batang pohon yang ambruk. Saya akan meminta keadilan. Kami dibuat resah, tidak nyaman," kata dia.

Sementara itu, David Sihombing selaku kuasa hukum PT Golden Navara mengatakan pihaknya merobohkan pohon sawit di atas lahan milik PT Golden Navara.

Menurutnya pihak perusahaan sebelumnya sudah memberi peringatan kepada penggarap. "Kalau memang merasa dirugikan laporkan saja," kata dia.

David mengaku tidak hadir utusan PT Golden, karena pada undangan pertama tidak ada tanda tangan. Sedangkan pada undangan kedua ia tak mendapat perintah untuk hadir dari direktur. 

"Kami juga telah melaporkan ini (pendudukan lahan) ke Polda Lampung. Jadi tak ada lagi kewenangan lurah untuk memediasi, " kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...

Berita Terkait

Komentar