#umkm#kerajinantangan

Perjuangan Perajin Kipas Mahligai di Tengah Pandemi Covid-19

Perjuangan Perajin Kipas Mahligai di Tengah Pandemi Covid-19
Megawati pengrajin anyaman bambu warga Dusun Rejosari, Desa Kotadalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Lampost.co/Perdhana


Kalianda (lampost.co) -- Matahari belum tampak, masih diselimuti mendung siang itu. Suara hiruk pikuk dari rumah yang tampak sederhana terdengar dari halaman depan.

Di belakang rumah, sejak pagi berkumpul beberapa ibu-ibu sedang menganyam kerajinan berbahan dasar bambu.

Mereka menganyam bambu yang dipilah dan diwarnai untuk dijadikan kipas mahligai, kipas balak dan anyaman nyawan  serta penganan yang digunakan pada acara  pernikahan dan hajatan lainnya.

Perajin anyaman bambu yang masih bertahan itu, seorang janda tua, Megawati (59) warga Dusun Rejosari, Desa Kotadalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.

Sejak suaminya meninggal tujuh tahun silam, ia menjadi tulang punggung keluarga, karena harus membiayai empat anaknya yang masih sekolah. Keahlian menganyam bambu didapatnya dari turun-temurun yang merupakan warisan leluhur adat budaya Lampung.

Anyaman kerajinan berbahan dasar rotan, seiring waktu berjalan, karena sulit dicari akhirnya beralih ke bambu jenis tali.

Untuk kipas mahligai ukuran kecil dengan hiasan pernak-pernik  dalam hajatan biasa dipakai para gadis seharga Rp3 ribu per buah, sedangkan kipas balak yang dipakai anak bujang Rp2 ribu, untuk anyaman nyawan dan penganan harga sesuai ukuran.

Dia mengaku, di masa pandemi Covid-19, penghasilannya turun drastis, karena kegiatan hajatan yang dikurangi. Dalam sepekan paling banyak produksi 300 buah, berbeda pada saat sebelum pandemi, pesanan kerajinan anyaman bisa mencapai 500--1.000 buah

Untuk tetap bertahan hidup saat pandemi Covid-19, mereka harus keliling menjual hasil kerajinan tangan menjadi souvenir atau oleh-oleh. "Sering keliling tawarin kipas mahligai," kata Megawati, Kamis, 18 Februari 2021.

Usaha kecil yang dijalani tidak hanya menjadi tumpuan hidupnya, melainkan beberapa orang tetangga dan ponakan yang selalu membantu. "Buatnya dibantu ponakan dan tetangga," ujarnya.

Para pengrajin sangat berharap perhatian pemerintah, agar mereka bisa bertahan hidup dan mempertahankan adat budaya Lampung. "Usaha kami butuh perhatian pemerintah," katanya.

Menurutnya, adat budaya Lampung tersebut perlu dipertahankan dan dilestarikan. "Selama ini tidak ada, perhatian pemerintah tidak selalu soal uang," ujarnya.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait