#umkm

Perjuangan Dosen Matematika Berdayakan Anak Marjinal Lewat Batik Lampung

Perjuangan Dosen Matematika Berdayakan Anak Marjinal Lewat Batik Lampung
Perajin batik di Galeri Andanan, Jalan Ganjaran, Desa Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedung Tataan, Pesawaran, Kamis, 14 Juli 2022. LAMPUNG POST/SUKISNO


Pesawaran (Lampost.co) -- Jari-jari wanita Desa Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedung Tataan, Pesawaran, dengan lentik memegang canting. Secara perlahan sejumlah perempuan itu menorehkan pewarna pada kain-kain yang telah digambar motif batik.

Kain-kain itu nantinya diolah sejumlah pria dihadapan mesin jahit. Bahan batik itu disulap menjadi pakaian atau aksesoris berkelas yang dapat dikenakan dalam berbagai kegiatan.

“Mereka bisa dibilang anak marjinal, karena anak putus sekolah dan difabel yang kami berdayakan untuk memiliki keahlian membatik,” kata Pemilik Batik Lampung Andanan, Hidayatullah, Jumat, 15 juli 2022.

Dia mengaku, anak putus sekolah, difabel, hingga ibu rumah tangga dibinanya untuk bisa produktif, menghasilkan karya, hingga pendapatan.

Pembinaan itu berjalan sejak 2018 lewat inisiatifnya bersama sang istri untuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar dengan bersama berjuang membangun usaha batik Lampung.

Walaupun tidak memiliki kemampuan dasar di bidang kesenian, Dayat, sapaan akrab Hidayatullah, tak patah arang untuk menekuni usaha tersebut. Sebab, pasangan itu kesehariannya sebagai dosen Matematika di Universitas Muhammadiyah Pringsewu.

Dengan rutinitas mengajar itu dia berinisiatif untuk belajar bersama masyarakat untuk membatik, proses mewarnai, hingga dijadikan pakaian dan aksesoris. Hal itu hanya dilakukan lewat video-video yang tersiar di Youtube.

“Awalnya ada 10 warga yang kami bina dan bertahan hanya lima orang. Dengan modal Rp2 juta, saya beli alat dan bahan, hingga mencari jaringan untuk pemasarannya. Ternyata niat memberdayakan mereka itu didukung hingga dibantu LPPM Unila,” ujarnya.

Hingga akhirnya, Batik Lampung Andanan dapat proyek pertama, yaitu mengerjakan seragam rektor se-Indonesia.

"Kami yang saat itu masih belajar, tetapi berusaha kuat agar hasilnya bagus. Tapi, dari situ kami mulai dikenal hingga di-support Dekranasda Pesawaran," ujar dia.

Bahkan, Ketua Dekranasda Pesawaran berkunjung ke rumah produksi untuk membuat desain sendiri bagi seragam PKK se-Pesawaran. Usaha itu pun kini terus berkembang hingga kini dikenal di seluruh instansi se-Lampung. 

"Pemesanan juga sudah sampai ke seluruh daerah se-Indonesia dan ekspor pernah Mesir, Brazil, dan Hong Kong," kata dia.

Hasilnya, dari awalnya hanya punya 15 karyawan dengan pesanan 100-200 lembar per bulan, saat ini memiliki 30 karyawan membatik, penjahit, dan admin. Seluruhnya untuk melayani 4.000-5.000 lembar per bulan.

Kendati demikian, untuk mencapai keberhasilan itu pastinya akan menemui kendala. Terlebih, pasangan tersebut yang tidak memiliki latar belakang untuk membatik. Kendala utama itu berupa belum memahami motif yang mencirikan milik Andanan.

Namun, dia pun mencoba membuat batik bernuansa matematika, kimia, dan biologi. Ternyata, motif tersebut cukup diterima hingga dikirim ke Brazil. 

"Lalu saya terus belajar hingga berkembang ke motif flora dan fauna, seperti gajah, ikan nemo, dan kopi. Hingga memiliki ciri Andanan sendiri, yaitu motif yang simpel, warna cerah, dan elegan," kata dia.

Atas capaian tersebut, dia masih memiliki cita-cita untuk menjadikan Andanan sebagai pusat eduwisata. "Dengan begitu wisatawan ke Lampung bisa melihat seluruh kerajinan tangan Lampung dalam satu tempat," katanya.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait