#pencabulan#asusila#beritalampung

Perguruan Tinggi di Lampung Minta Permendikbud 30 Dikaji Ulang

Perguruan Tinggi di Lampung Minta Permendikbud 30 Dikaji Ulang
Kekerasan seksual. Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Perguruan tinggi di Lampung meminta Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang pencegahan kekerasan seksual di dalam kampus ditinjau ulang.

Ketua Aptisi Lampung, Firmansyah, menjelaskan pihaknya mendukung pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Namun, aturan yang dikeluarkan harus tegas dan tidak meninggalkan norma-norma agama.

Menurutnya, definisi kekerasan seksual dilakukan dengan paksaan seolah-olah membenarkan hubungan seksual yang dilakukan atas dasar suka sama suka. Hal tersebut tentu tidak mencerminkan nilai sila pertama tentang ketuhanan.

"Kami mendukung, tapi hubungan seksual yang dilakukan baik suka sama suka atau tidak itu sama saja, keduanya harus ada sanksi," ujar Rektor IIB Darmajaya itu, Minggu, 14 November 2021.

Bahkan, lanjutnya, frasa yang digunakan itu bisa dijadikan pembelaan bagi pelaku kekerasan seksual.

Sementara Rektor UIN Raden Intan, Moh Mukri, mengingatkan Kemendikbud untuk jangan mengeluarkan aturan-aturan yang kontra produktif dengan nilai-nilai di masyarakat.

Sebab, pelaku kekerasan seksual di dalam kampus harus ditindak tegas. Namun, jangan sampai bertentangan dan menimbulkan kegaduhan.

"Indonesia negara Pancasila, banyak regulasi yang tidak tertulis tapi hidup di masyarakat. Jangan memaksakan hal-hal dari luar diterapkan di Indonesia tanpa seleksi," tegasnya.

Namun, dia mendukung regulasi yang memberikan perlindungan perempuan. Hal itu juga tentu sesuai dengan ajaran dalam agama.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait