#pendidikan#tenagapendidik#humaniora#beritanasional

Perbaikan Tata Kelola Pendidikan dan Mutu Pengajar Harus Bisa Menjawab Tantangan

Perbaikan Tata Kelola Pendidikan dan Mutu Pengajar Harus Bisa Menjawab Tantangan
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Dok


Jakarta (Lampost.co): Perbaikan tata kelola pendidikan terkait mutu pengajar dan keterbukaan akses, serta sinergi dengan lembaga pendidikan swasta sangat diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan di masa datang.

"Dampak pandemi terhadap proses pendidikan di lingkungan pendidikan tinggi sangat dirasakan oleh para pengajar dan mahasiswa di Tanah Air," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Menyelamatkan Kualitas Sarjana di Masa Pandemi yang digelar Forum Diskusi Denpasar Duabelas, Rabu, 7 Oktober 2020.

Diskusi yang dimoderatori Luthfi Assyaukanie, Ph.D (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI
Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah) itu, menghadirkan Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D (Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan), H. Syaiful Huda (Ketua Komisi X DPR RI Periode 2019-2024), Prof. Dr. Komarudin, M.Si (Rektor Universitas Negeri Jakarta) dan Rusnoto, SKM, M.Kest (Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus) sebagai narasumber.

Selain itu, pada diskusi yang digagas Wakil Ketua MPR RI bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah itu, juga menghadirkan Prof. Badri Munir Sukoco, SE, MBA, Ph.D (Futurolog Pendidikan/Guru Besar FEB Unair) dan Ahmad Baedowi (Direktur Eksekutif Yayasan Sukma).

Dampak tersebut, menurut Lestari, antara lain terlihat dalam bentuk kendala pelaksanaan belajar jarak jauh. Akibatnya, jelas Rerie, sapaan akrab Lestari, 98 persen pelaksanaan belajar jarak jauh dinilai tidak efektif.

Kendala lain yang muncul ke permukaan, tambahnya, adalah 70 persen dari 4.250 kampus terkendala masalah pembiayaan, karena banyak orang tua siswa mengalami kesulitan keuangan di masa pendemi.

"Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh. Karena itu untuk masa mendatang perlu sejumlah perbaikan tata kelola pendidikan yang lebih antisipatif agar kualitas pendidikan tetap terjaga," ujar Legislator Partai NasDem itu.

Ketua Komisi X DPR RI, H. Syaiful Huda mengungkapkan, sebenarnya Kemendikbud sudah menerapkan konsep Merdeka Belajar yang mampu merespon sejumlah kendala di sektor pendidikan di masa pandemi.

Hanya saja, jelas Syaiful Huda, karena belum meratanya kualitas perguruan tinggi di Tanah Air sehingga proses adaptasi dengan konsep Merdeka Belajar pada sebagian besar perguruan tinggi masih menghadapi kendala.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, 
Aris Junaidi menegaskan, tercapainya peningkatan kualitas pendidikan adalah amanat undang-undang, yang tertuang dalam Pasal 51, UU no 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sehingga, tambah Aris, meski pembelajaran dilakukan secara daring di masa pandemi ini fokus pencapaiannya tetap untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan mahasiswa.
"Sehingga berbagai upaya juga dilakukan Pemerintah agar mahasiswa tetap mendapat sumber-sumber pembelajaran yang mudah diakses untuk menambah kompetensinya, seperti membuat situs kursus daring secara gratis," ujar Aris.

Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Komarudin, M.Si mengungkapkan, di masa pandemi ini yang cukup terkendala adalah mata kuliah yang berbentuk praktikum dan tidak memungkinkan dilakukan secara daring. "Sehingga meski sebagian program studi bisa melakukan perkuliahaan secara daring, namun sebagian program studi yang mewajibkan mahasiswa untuk praktikum masih terkendala," ujarnya.

Dalam komentar pada bagian akhir diskusi, jurnalis senior, Saur Hutabarat menegaskan, yang menjadi kendala dalam proses belajar jarak jauh bukanlah karena cara belajar yang berbeda dari kebiasaan.
 
Lebih dari itu, menurut Saur, dalam belajar jarak jauh sangat tergantung dari cara penyampaian dosen dalam proses belajar jarak jauh itu. 

Hal itu dibuktikan oleh kuliah gratis secara daring yang dilakukan oleh sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat.
"Dengan gaya penyampaian dosen yang rileks dan bahasa yang mudah dipahami, kuliah daring dengan pokok bahasan yang berat, bisa mendapat perhatian jutaan pemirsa," ujarnya.

Saur berharap, cara penyampaian para dosen perguruan tinggi di Tanah Air harus fokus pada tersampaikannya substansi dari mata pelajaran, tidak perlu lagi mempermasalahkan hal remeh seperti cara berpakaian saat mengikuti kuliah daring.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait