#penjualangadinggajah#gajah#beritalampung

Peran Tiga Penjual Gading Gajah di Pringsewu

( kata)
Peran Tiga Penjual Gading Gajah di Pringsewu
Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co): Polda Lampung menangkap 3 pelaku penjual gading gajah pada Rabu, 23 September 2020, malam, di Hotel Regency Pringsewu, sekitar pukul 22.15 WIB.

Penangkapan tersebut dilakukan oleh Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Lampung bersama dengan tim dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Tiga orang pelaku bernama Bintoro Lasiban, warga Gayabaru V, Kecamatan Bandar Surabaya, Lampung Tengah; Trisawantoro warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Bangunrejo, Lampung Tengah; dan Azuar SM warga Desa Terbaya, Kecamatan Kotaagung Pusat, Kabupaten Tanggamus.

Dari tangan pelaku diamankan barang bukti berupa 2 buah gading gajah dengan ukuran panjang 59 cm, berat 96,2 gram, dan panjang 56 cm dengan berat 94,2 gram. 

Baca juga: Polda Bekuk Tiga Penjual Gading Gajah di Pringsewu

Plt Kepala TNBSS Ismanto mengatakan penggerebekan dilakukan bersama Polda Lampung dan Tim Reaksi Cepat (TRC) TNBBS. Ketiga pelaku memiliki perannya masing-masing.

Bintoro merupakan pemilik dua benda diduga gading gajah tersebut. Selanjutnya Azwar berperan sebagai mediator. Sedangkan Trisawantoro sebagai penunjuk jalan, tempat pelaku hendak bertransaksi.

"Pelaku ada peran-perannya masing-masing. Ini kerjas ama Tim Reaksi Cepat (TRC) TNBBS bersama Ditreskimsus Polda Lampung," ujarnya.

Rencananya, gading gajah tersebut akan dijual oleh mediator (makelar) dengan harga Rp90 juta.

"Pemilik barang meminta harga Rp35 juta untuk 2 gading, sementara mediator meminta harga Rp90 juta untuk 2 gading tersebut," katanya. 

Kabid Humas Polda Lampung Kombespol Zahwani Pandra Arsyad mengatakan gading gajah tersebut bisa saja berharga hingga ratusan juta jika jatuh ke tangan kolektor ataupun diedarkan ke luar Sumatera, atau hingga ke luar negeri.

"Wilayah Lampung ini merupakan perlintasan, sehingga rawan," katanya.

Dia mengatakan Polda Lampung akan melakukan pengembangan terkait asal gading, jenis gading, hingga apakah ada jaringan lain.

"Tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain, masih dikembangkan," katanya.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 21 Ayat (2) huruf (d) juncto Pasal 40 Ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnnya dengan ancaman pidana paling lama 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...


Berita Terkait



Komentar