#narkoba#kriminal#beritalampung

Penyelundupan Ribuan Ekstasi Dikendalikan Napi Vonis Mati dari Lapas

( kata)
Penyelundupan Ribuan Ekstasi Dikendalikan Napi Vonis Mati dari Lapas
Ilustrasi. Medcom.id

Bandar Lampung (Lampost.co): Sebanyak 6.969 pil ekstasi asal Aceh yang disita oleh BNNP Lampung ikendalikan dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IA Bandar Lampung atau Lapas Rajabasa.

Dua pengendali yang dijadikan tersangka oleh BNNP Lampung yakn M. Nasir (31) dan David Prasetyo (31), keduanya merupakan pengendali asal Pesawaran. Berdasarkan catatan Lampost.co, M. Nasir telah divonis mati pada sidang di PN Kalianda, 27 November 2019, lalu dikuatkan lagi oleh Pengadilan Tinggi Tanjungkarang.

"Dari pengakuan Edi dikendalikan oleh David dan Nasir dari LP Rajabasa. Kemudian kita berkordinasi dengan LP Rajabasa, kita melakukan pemeriksaan terhadap kedua napi tersebut dan keduanya mengakui," ujar Kepala BNNP Lampung Brigjenpol I Wayan Sukawinaya, Kamis, 2 Juli 2020.

I Wayan menambahkan pihaknya masih melakukan pengembangan terhadap perkara tersebut untuk mengejar pemilik barang haram dan bandar yang akan menerimanya di Lampung.

Sementara barang haram tersebut diduga milik seseorang berinisial PON. "Kita juga koordinasi apakah ada unsur pencucian uang, karena diwajibkan koordinasi dengan BNN pusat," katanya.

Baca juga: 6.969 Pil Ekstasi Disembunyikan di Ban Serep

Selain M. Nasir, napi lainnya juga mengendalikan narkoba skala besar dari balik jeruji besi yakni Jepri Susandi.

Jepri Susandi sendiri akan menjalani dua sidang dalam waktu dekat yakni sidang tuntuntan atas pengendalian sabu 41,6 kg pada 2 Juli 2020 dan sidang dakwaan tindak pidana pencucian uang yang akan digelar pada 9 Juli mendatang.

Awalnya Jepri Susandi (41) yang menyamarkan hartanya sebagai juragan angkot dan juga selaku pemilik sabu seberat 7,259 kg ditangkap BNNP Lampung pada 12 Agustus 2019, usai salat di sekitar kediamannya. Penangkapan Jepri berawal dari tertangkapnya dua kurir asal Aceh Zawil Qiram dan Silman, serta penerima sabu milik Jefri, warga Bandar Lampung yakni Ade.

Dari tangan Jefri pun disita barang bukti seperti mobil, perhiasan, buku tabungan, ponsel, hingga surat tanah yang nominalnya mencapai Rp1,9 miliar. Semuanya merupakan hasil tindak pidana pencucian uang dari menjual sabu.

Belakangan, setelah dikembangkan total barang bukti perkara tersebut sebanyak 13 kg. Jepri pun divonis 17 tahun penjara di PN tanjungkarang pada Senin, 20 Januari 2020.

Ketika ditahan di Rutan Kelas IA Bandar Lampung atau Rutan Way Hui, Jepri pun kembali berulah dengan mengendalikan peredaran sabu seberat 41,6 kg.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...

Berita Terkait

Komentar