#beritalampung#beritalampungkini#keracunan#balaipom#laboratorium#pasutri

Penyebab Pasti Pisang Goreng Maut Tunggu Hasil Laboratorium

Penyebab Pasti Pisang Goreng Maut Tunggu Hasil Laboratorium
Kantor Sat Reskrim Polres Lampung Tengah, Jumat, 20 Januari 2023. Lampost.co/Raeza Handanny Agustira


Gunungsugih (Lampost.co) -- Polisi hingga saat ini masih menunggu hasil laboratorium dari Balai POM terkait tewasnya Dikin (80) dan Tayem (75), pasutri lansia warga Kampung Totokaton, Kecamatan Punggur, Selasa, 17 Januari 2023. Kematian keduanya diduga karena keracunan pisang goreng.

Tak hanya pasutri lansia tersebut, pisang goreng yang diduga tercampur obat pembasi serangga itu juga menewaskan Ade Novriandi (33), warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro. Korban ikut memakan pisang goreng saat takziah di rumah duka.

"Kami masih menunggu hasil laboratorium Balai POM. Dari pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP), kami tidak menemukan tanda-tanda pembunuhan," kata Kasat Reskrim Polres Lamteng, AKP Edi Qorinas, Jumat, 20 Januari 2023.

Dugaan sementara, adanya kelalaian pasutri lansia saat mengolah makanan. Kemungkinan karena daya ingatnya sudah berkurang (pikun) sehingga keliru saat membedakan antara racun dan jenis bahan makanan.

Baca juga: Pasutri di Lamteng Tewas usai Makan Pisang Goreng Beracun 

"Kemungkinan dia (Tayem) salah ambil, racun itu tercampur dengan adonan tepung. Untuk hasil laboratoriumnya keluar dalam waktu tujuh hari," katanya.

Terkait adanya korban lain dalam peristiwa ini, diduga para kerabat yang melakukan takziah tidak mengetahui kalau pisang goreng yang mereka makan saat itu diduga sebagai pemicu meninggalnya Dikin dan Tayem.

"Mereka datang untuk takziah, saat di rumah duka mereka melihat ada pisang goreng dan memakannya," ujarnya.

Sebelumnya, Camat Punggur Sukistoro menerangkan pihaknya bersama petugas kepolisian langsung melakukan tindakan terkait kejadian ini. "Iya benar, itu suami istri sudah tua semua di rumahnya mereka menggoreng pisang, rupanya kemungkinan tepungnya itu keliru obat semut. Intinya keracunan. Itu obat semut," kata Camat Sukistoro kepada Lampost, Kamis, 19 Januari 2023.

Dia menerangkan bersama kepolisian meminta keluarga pasutri lansia yang meninggal supaya jenazah keduanya untuk diautopsi, namun keluarga berkeras menolak.

"Kami langsung datangi bersama anggota kepolisian dan sampai cekcok karena keluarga menolak untuk dilakukan autopsi. Karena keluarga menolak, dibuat berita acara dan sekarang sudah selesai," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait