#Refleksi#Kolom#Opini

Penjaga Agama          

( kata)
Penjaga Agama          
Dok pixabay.com


 Iskandar Zulkarnain

Wartawan Lampung Post

MASA kecil itu indah. Apalagi menginjak usia remaja yang aktif di musala dan masjid. Seorang imam atau ulama, kiai, ustaz, juga syekh jadi incaran. Mereka adalah para ahli surga. Usai tausiah, jemaah pun rebutan mencium tangannya. Sisa air minumnya pun menjadi target di kala masa kecil dulu.

Apalagi mendengarkan tausiah dengan guyonan. Pasti pulang dari musala sangat berkesan. Ilmu agama yang disampaikannya menjadi rambu-rambu  kehidupan hari-hari. “Minuman air jeruk nipis, sisa dari ustaz, jatah kita berdua ya,” kata aku kepada teman sebaya di sebuah musala, dekat rumah.

Pikirku saat itu, dengan minuman sisa dari seorang kiai atau ulama–ilmu agamanya akan menurun. Diberikan kemudahan oleh Allah, Sang Pencipta. Apalagi kalau disuruh antarjemput kiai yang ingin tausiah di musala, pasti semua aktivitas ditinggalkan demi ingin selalu dekat dengan sang guru.

Ketika dalam perjalanan mengantarnya pulang, banyak yang kutanyakan jika ada materi tausiah yang belum paham. “Ini kesempatan–tidak datang dua kali memperdalam sandaran dari isi ceramah,” pikirku. Dan aku selalu mengambil hati ketua pengurus musala agar selalu disuruh mendampingi ustaz ketika pulang ke rumahnya.

Banyak orang tidak memiliki kesempatan dekat dengan ulama. Ingin dekat saja tidak cukup, tapi harus lebih mengenalkan diri. Ini memerlukan usaha. Aku pun pernah dipercaya menjadi salah seorang koordinator daerah (korda) dai kondang, Zainuddin MZ, di Palembang. Syukur dan harunya luar biasa. Bersama dai sejuta umat dikawal, dihormati umara dan jemaah.

Di dunia sudah seperti ini, apalagi di akhirat nanti. Dimuliakan. Dan Allah akan mengangkat derajat yang tinggi bagi hamba-Nya beriman dan berilmu pengetahuan. Itu sudah janji Tuhan. Ulama selalu dalam lindungan, apalagi para hafiz–penghafal Al-Qur’an 30 juz. Subhanallah–mereka akan selamat dan dijaga oleh malaikat–tentara Tuhan dari bahaya yang mengancamnya.

Adalah Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau dikenal dengan sapaan Syekh Ali Jaber. Ulama besar kewarganegaraan Indonesia yang dilahirkan di Kota Madinah, 3 Februari 1976 lalu, ditikam oleh anak muda saat memberikan ceramah di Masjid Falahuddin, Sukajawa, Bandar Lampung, Minggu (13/9).

Sang hafiz Al-Qur’an mengalami luka tusuk di lengan kanan. Cobaan itu tidak membuatnya surut  untuk berdakwah. Usai peristiwa tragis itu, malamnya, Ali Jaber tetap memberikan tausiah di Masjid Baiturrohim, Sukarame, Bandar Lampung, setelah mendapat perawatan dokter.

Terang benderang, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Ali Jaber dijaga. "Alhamdulillah, innalillahi wa innailaihi rojiun, subhanallah, pengalaman baru bagi saya selama 12 tahun di Indonesia menjaga nikmat iman, ikut juga menjaga kesatuan, serta menjaga kebersamaan, saat mengisi acara di Lampung, Allah selamatkan dari upaya pembunuhan," ujar Syekh.

Dalam video yang viral, pemilik masjid besar di Madinah itu mengisahkan–dengan gerak refleks, Ali menyilangkan bahu menutupi leher, dada dari ancaman pembunuhan. Hanya bahu kanan luka tusukan dari senjata tajam.

"Saya bisa selamat karena Allah takdirkan. Saya angkat tangan di posisi ke depan leher dan dada. Tusukan cukup kuat, sampai pisau patah sebagian di dalam bahu. Saya sendiri yang mencabut patahan pisau," ujar Ali Jaber.

Hikmah dari peristiwa mengerikan itu, kalimat rasa syukur berkali-kali terucap dari Syekh. Anak-anak bangsa agar tetap menjaga keamanan dan kebersamaan antarumat Islam. "Alhamdulillah, innalillah. Pelajaran baru. Mudah-mudahan Indonesia tetap bisa menjaga nikmat aman, sejahtera, dan kita bersatu memperjuangkan Al-Qur’an di negera tercinta Indonesia.”  

***

Sebenarnya,  siapa pelaku ancaman pembunuhan itu? Tersangka bernama Alfin Andrian, warga Bandar Lampung. Motif pembunuhan terus didalami. Aparat juga mengerahkan kekuatannya untuk mencari tahu latar belakang perbuatan keji ini. Tapi di pengadilan nanti yang akan mengungkapnya. Alfin sangat pantas menerima hukuman berat karena sudah merencanakan pembunuhan!

Sejumlah tokoh agama mengapresiasi kinerja polisi Lampung. Dalam waktu kurang tiga hari, kasus pembunuhan dengan ancaman pasal-pasal berlapis dilimpahkan ke kejaksaan untuk segera disidangkan. Pastinya aparat tidak mau berspekulasi. Meja hijaulah tempat pembuktiannya.

Percobaan pembunuhan bagi ulama dan imam masjid tidak hanya terjadi kali ini saja. Bahkan pernah dialami juga Nabi Muhammad saw. Ditemani Abubakar dan dijaga tentara Allah, Rasulullah lolos dari kejaran kaum Quraish. Dari dulu hingga kini tidak berhenti kekerasan terhadap ulama.   

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini saja, tercatat di kepolisian, sudah ada 21 kasus kekerasan terhadap tokoh agama dan tempat ibadah. Itu tersebar di Aceh, Banten, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jatim, Jabar dengan motif kebencian. Terakhir di Lampung yang membuat sontak negeri ini.

Kasus yang menimpa pimpinan Pesantren Al-Hidayah, KH Umar Basri bin Sukrowi di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat, terjadi pada 27 Januari 2018. Lalu dialami juga tokoh Persatuan Islam Indonesia (Persis) HR Prawoto dianiaya seseorang pada Februari 2018. Akibatnya Prawoto tewas.

Terhadap rumah ibadah terjadi dengan Gereja Santa Lidwina di Sleman, Yogyakarta, pada 11 Februari 2018. Seorang warga menyerang dengan senjata tajam saat misa berlangsung. Pastor Karl-Edmund Prier SJ atau yang biasa dipanggil Romo Prier terluka parah. Ada saja orang –orang yang terus mengusik ketenteraman kehidupan umat beragama di negeri ini.

Hebatnya lagi kekerasan itu diramaikan yang dibumbui  kalimat yang berkedok partai terlarang di Indonesia. Bahwa perbuatan itu antiagama. Gendang ditabuh. Kebencian menjadi liar karena tidak utuh memahaminya. Dengan isu fitnah, emosi rakyat sangat mudah terbakar. Mari sadarkan diri.

Kini negara harus tegas. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Polri, Badan Intelijen Negara (BIN) mengusut kasus penyerangan ulama di masa lalu, hingga peristiwa di Lampung. Kepala Negara ingin kasus tersebut dituntaskan agar tidak menjadi spekulasi liar yang berkembang di masyarakat.

Indonesia ini negara hukum dan berketuhanan. Saatnya tokoh agama dari berbagai agama yang diakui harus dilindungi undang-undang. Parlemen saja sudah menggagas Rancangan Undang-Undang Perlindungan Tokoh Agama dan Simbol Agama. Tapi kapan disetujui menjadi RUU. Kesepakatan awalnya, sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2020.

Ingat! Kasus-kasus kekerasan yang menimpa banyak tokoh agama adalah bukti bahwa ancaman dan intimidasi itu kian nyata. Negeri ini berkali-kali berbuat kesalahan. Tidak mau belajar banyak dari peristiwa nyata tadi.

Negara sekuler seperti Amerika Serikat saja, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen mempunyai peraturan guna melindungi tokoh agamanya. Indonesia ini kapan ya? Atau masih harus menunggu banyak korban dari tokoh agama akibat dikriminalisasi para penjahat.  ***

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait