#garam#bpom#=yodium

Pengusaha Garam tanpa Izin Edar Divonis 6 Bulan Kurungan

Pengusaha Garam tanpa Izin Edar Divonis 6 Bulan Kurungan
Foto : Lampost.co/ Febi


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang memvonis pengusaha garam tanpa izin edar dengan pidana penjara selama 6 bulan kurungan, Kamis (3/1/2019).  Selain pidana penjara, terdakwa Aryanto, warga Jalan Wala Abadi RT/RW 011/000, Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung, harus membayar pidana denda Rp100 juta subsider 2 bulan.
 
Hakim sependapat dengan jaksa jika terdakwa secara sah melakukan tindak pidana tanpa hak melawan hukum mengedarkan barang tanpa izin sesuai dengan Pasal 62 Ayat (1) jo Pasal 91 Ayat (1) huruf C UU RI No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen atau Perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 142 jo Pasal 91 Ayat (1) UU RI No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
 
Berdasarkan fakta-fakta sidang, saksi, keterangan terdakwa, dan barang bukti yang dihadirkan, terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana. "Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Aryanto dengan pidana penjara selama 6 bulan, denda Rp100 juta, subsider 2 bulan," kata Hakim Ketua Surono.
 
Vonis Majelis itu lebih rendah dari tuntutan jaksa, dengan terdakwa dituntut dengan hukuman 8 bulan kurungan serta denda Rp100 juta subsider 3 bulan.
 
Jaksa Rosman Yusa menerangkan perbuatan Ariyanto diakukan sejak 2012, terdakwa memiliki usaha yang bergerak dalam bidang pengolahan, pengemasan, dan perdagangan garam konsumsi beryodium dengan merek dagang Cap Segitiga Permata di Kampung Kroy, Jalan Wala Abadi RT/RW 011/000 Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung.
 
Jaksa Yusa menyatakan terdakwa dalam melakukan pengolahan dan pengemasan garam beryodium Cap Segitiga Permata dengan cara mencurahkan garam nonyodium lalu terdakwa menyiapkan yodium dengan takaran 1 ton garam nonyodium disemprotkan 1 liter air dengan campuran 50 gram yodium.
 
Setelah selesai diolah kemudian dilakukan pengemasan secara manual dan dalam satu harinya menghasilkan 1,5 ton.
 
"Garam berbagai ukuran dan harga tersebut selanjutnya terdakwa jual kepada konsumen yang datang ke gudang, lalu terdakwa catat pada buku catatan penjualan," kata Jaksa.
 
Selanjutnya, pada Jumat (31/8/2018), pukul 10.00, Penyidik Subdit I Indigasi Polda Lampung mendapatkan Informasi dari masyarakat bahwa terdapat pengolahan dan pengemasan garam beryodium Cap Segitiga Permata yang diduga tidak memiliki izin edar yang terletak di Kampung Kroy, Jalan Wala Abadi.
 
"Kemudian sekitar pukul 15.00 Subdit I Indigasi Polda Lampung melakukan penyidikan terhadap informasi tersebut selanjutnya dilakukan pengecekan ke lokasi tersebut dan ditemukan kegiatan pengolahan dan pengemasan garam yodium Cap Segitiga Permata yang tidak memiliki izin edar dari BPOM RI," kata jaksa.
 
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha yang bergerak di bidang produk garam beryodium adalah wajib memiliki izin edar yang dikeluarkan oleh BPOM RI. Bahwa garam konsumsi beryodium Cap Segitiga Permata milik terdakwa Ariyanto tersebut masuk kelompok pangan olahan dan wajib memiliki izin edar dari BPOM RI, serta garam beryodium Cap Segitiga Permata tidak dapat diedarkan atau diperdagangkan sebelum terbitnya izin edar dari BPOM.

 

EDITOR

Febi Herumanika*

loading...




Komentar


Berita Terkait