Kedelaitempe

Pengrajin Tempe Kembali Beroperasi

Pengrajin Tempe Kembali Beroperasi
Salah satu pengrajin tempe di Gunungsulah, Bandar Lampung. Lampost.co/Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pengrajin tempe dan tahu di Gunungsulah, Bandar Lampung kembali beroperasi. Sebab, warga tersebut tidak memiliki pekerjaan pengganti. Dengan demikian, meski harga kacang kedelai tetap naik tetap.

"Tempe itu jadi pilihan lauk utama rata-rata orang Indonesia. Jadi kami tetap produksi karena permintaan pasar yang terus menerus pesan," kata Sumiyati (35) saat ditemui di kediamannya, Rabu, 6 Januari 2021.

Meski belum ada tanda penurunan dari harga kedelai yang dijual pengepul, ia tetap memproduksi dengan melakukan strategi penjualan. "Harga masih mahal, jadi saya siasati. Misalnya, harga tetap, tetapi ukurannya diperkecil dan nggak tebal lagi seperti biasa," ujarnya. 

Hal tersebut dilakukan agar keuntungan tetap didapat. "Untung kami tidak sama seperti biasanya, tetapi lumayan, karena kami tidak ada pekerjaan lain," ujarnya. 

Ia mengaku tak menaikan harga tempe dan tahu. Sebab tidak ingin mengecewakan pelanggan yang menjualnya kembali di warung-warung kecil. 

"Sempat mikir mau dinaikkan, tapi kan saya ini grosir. Jual di warung kecil itu kasian, pasti gak laku. Lagian banyak orang protes harga tempe naik, padahal bukan kami yang naikkan," ujarnya. 

Sebelumnya, Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi Lampung, M. Zimmi Skil mengatakan penyesuaian harga untuk tahu dan tempe pun harus dilakukan. Sebab, jika harga tetap normal, akan memberatkan pengrajin karena harga bahan bakunya naik.

"Kondisi di dunia segitu harganya. Harga kedelai penyesuaian, maka otomatis akan ada kenaikan harga tahu dan tempe. Jadi ini murni karena harga bahan baku dunia yang naik. Stok aman kami jamin," katanya.

Selain itu faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia adalah lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika Serikat, selaku eksportir kedelai terbesar dunia. Pada Desember 2020 permintaan kedelai naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait