#PESTISIDA#BERITALAMPURA#

Penggunaan Pestisida Tinggi Turunkan Produktivitas Lada di Lampura

Penggunaan Pestisida Tinggi Turunkan Produktivitas Lada di Lampura
Pemanenan lada di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Sungkai Barat, beberapa waktu lalu. (Foto: Lampost.co/Yudhi Hardiyanto)


Kotabumi (lampost.co)-- Angka pemakaian pestisida seperti herbisida, insektisida, dan fungisida untuk tanaman lada di Lampung Utara cukup tinggi dengan pemakaian rata-rata 3-4 liter per hektare. Padahal, hal tersebut memengaruhi hasil panen tiap tahun. 

"Dalam setahun, petani menyemprotkan herbisida guna membasmi rumput pada tanaman lada antara dua sampai tiga kali" ujar Kepala Seksi Pembenihan, Bidang  Perkebunan, Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Utara, Pahmi, di ruang kerja, Senin, 8 Maret 2021.

Menurutnya, dampak dari pemakaian pestisida selama bertahun-tahun itu bisa dirasakan karena produktivitas hasil panen lada yang turun tiap tahun. 

"Kami telah melakukan perbandingan hasil panen di wilayah sentra penghasil lada. Untuk wilayah yang tidak memakai pestisida kimia dan pupuk kimia, hasil panen lada per tahun berada di kisaran 1 ton- 1,8 ton per hektarenya. Sedangkan, lada nonorganik per hektare hanya menghasilkan di kisaran angka 4 kuintal - 7 kuintal" tuturnya. 

Selain faktor harga, produktivitas hasil panen lada yang rendah tiap tahun menjadi alasan bagi petani beralih ke komoditas pertanian yang lebih menguntungkan. Merujuk data yang dihimpun petugas, pada 2017 luas lada tercatat 11.714 ha dan pada 2018 luas areal mengalami penyusutan 10.308 ha. 

"Banyak tanaman lada anorganik yang rusak karena pemakaian pestisida kimia yang berlebih, sementara pengembangan lada organik yang terkonsentrasi di Desa Pekurun Udik, Kecamatan Abung Pekurun mengalami perluasan areal tanam dari sebelumnya di 2018 seluas 41,9 ha, pada  2019 naik menjadi 94,8 ha" kata dia. 

Kepala Seksi Metode dan Informasi Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Utara, I Made Wirata, mengatakan pemakaian pestisida kimia secara berlebih, bukan hanya mematikan hama maupun gulma di areal lahan. Tetapi, dapat mematikan mikroorganisme atau bakteri pengurai maupun jasad renik yang hidup dalam tanah.

"Konsep pertanian organik adalah selaras dengan alam, yakni dengan menghidupkan tanah, sedangkan prinsip pertanian anorganik adalah memaksa tanaman untuk tumbuh dan berproduksi. Karena itulah pertanian organik menjadi pilihan model pertanian yang berkelanjutan," ujar Made di ruang kerja, Senin, 8 Maret 2021. 

 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait