#bumd#pad

Pengembangan BUMD Pemrov Lampung Dikebut

Pengembangan BUMD Pemrov Lampung Dikebut
Plt Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung, Kusnardi. ISTIMEWA


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menyatakan percepatan pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) membutuhkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.

"Sampai sekarang masih membutuhkan strategi yang mumpuni agar nantinya dengan harapan proyek prioritas strategis nasional yang berlokasi di Provinsi Lampung ini dapat berjalan maksimal," kata Plt Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung, Kusnardi, Minggu, 5 September 2021. 

Baca: Direksi Baru Diharapkan Bawa BUMD Lampung Lebih Maju

 

Menurut dia, Pemprov sedang melakukan pengintegrasian setiap dokumen perencanaan pembangunan daerah.

"Terdapat dua fungsi BUMD yang merupakan sumber pendapatan daerah dan malaksanakan kegiatan public service obligation (PSO) atau social publication," ujarnya. 

Dalam menjalankan BUMD, tambahnya, membutuhkan biaya yang besar serta harus dibarengi regulasi.

"Jadi sebelum terbentuk dengan matang. Saat ini kami masih melakukan pembinaan masyarakat agar paham dan tahu fungsi BUMD sebagai upaya kami dalam meningkatkan ekonomi," jelasnya. 

"Sektor pertanian paling mendominasi. Sementara yang paling dibutuhkan adalah kesiapan modal serta sumberdaya manusia yang profesional," ungkap dia. 

Ia melaporkan, BUMD Lampung juga telah bekerja sama di bidang ketahanan pangan dengan Pemprov DKI Jakarta guna meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

"Kita buka peluang kerjasama dengan tiga BUMD milik DKI Jakarta untuk meningkatkan PAD dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Lampung. Namun perlu diperhatikan pula keberlanjutan produksi dan masalah pengemasan produk agar baik pula," ucapnya.

Menurutnya, komoditas yang menarik bagi BUMD sektor ketahanan pangan DKI Jakarta tersebut meliputi penyediaan beras premium, gula konsumsi, garam, dan tepung tapioka.

"Untuk PT Food Station meminta penyediaan beras premium 500 ton per bulan, gula konsumsi 4.000 ton per bulan, tepung tapioka 1.000 ton per bulan dan garam 8.300 ton per bulan," ujarnya.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait