#ponpes#pendidikan

Pengawasan Ketat Dinilai Dapat Putus Rantai Kekerasan di Ponpes

Pengawasan Ketat Dinilai Dapat Putus Rantai Kekerasan di Ponpes
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Mukri. Dok Lampost


Bandar Lampung (lampost.co) -- Kasus kekerasan yang berujung kematian santri terjadi di sejumlah pondok pesantren Indonesia. 

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Mukri, menyayangkan kejadian tersebut. Da meminta lingkungan pondok pesantren, kiai, guru, dan santri tidak lengah dalam pengawasan.

"Harus memberi perhatian lebih serius dan khusus karena era ini berkembangnya generasi milenial," kata Mukri, saat dihubungi, Senin, 19 September 2022.

Selain itu, keterbukaan akses informasi membuat santri dapat membuka media sosial meski di dalam lingkungan ponpes.

Dia menilai, kehidupan ponpes zaman dulu berbeda dibanding saat ini. Sebab, dulu santri hanya dikurung di pondok untuk belajar, menghafal, dan mengaji. Ia tidak mengenal dunia luar sama sekali.

"Generasi saat ini, meski di dalam pesantren dan gedung, tetapi bisa akses informasi dan mengikuti perkembangan dari luar pesantren," ujarnya.

Hal itu yang dapat menimbulkan kekerasan secara langsung. "Kehidupan media yang sekarang global harus menjadi kesadaran bersama," tuturnya.

Ia meminta ponpes membenahi sistem kedisiplinan dan memberi edukasi kepada santri untuk bermedia secara bijak. 

Selain itu juga guru harus lebih terbuka dan memberi perhatian kepada santri dalam pengawasan dan berperilaku. 

"Pola pikir konstruksinya diubah. Guru bukan hanya sekedar mengajar dan transfer pengetahuan, tapi juga menjadi pembimbing dan konselor," pungkasnya. 

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait