#beritalampung#lakalantas#jalantol

Pengamat Transportasi Beri Saran Antisipasi Kecelakaan di Jalan Tol

Pengamat Transportasi Beri Saran Antisipasi Kecelakaan di Jalan Tol
Kecelakaan di jalan tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co): Pengamat transportasi dari MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia), IB Ilham Malik, memberikan saran dalam upaya mengantisipasi kecelakaan lalu lintas di jalam tol.

"Saya kira sekarang fase yang sangat penting itu ada di kesadaran penggunaan jalan tol. Harus kita akui bahwa jalan tol yang ada di Lampung - Palembang ini memiliki trek yang relatif lurus dan sangat panjang, sehingga kita bisa melihat dan merasakan sendiri bahwa banyak kendaraan yang melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi," ujar dosen prodi PWK Itera ini, Rabu, 27 Juli 2022.

Dirinya mengungkapkan dari laporan yang sudah dikumpulkan oleh pihak pengelola jalan tol dan kepolisian. Pendataan melalui CCTV memantau speed kontrol, ternyata menunjukkan banyak sekali kendaraan yang melintas dengan kecepatan diatas batas kecepatan rata-rata.

Sebab menurutnya, jalan tol sebenarnya di desain maksimum 100km/jam, tetapi diberi toleransi hingga 120km/jam. Berdasarkan pengawasan sangat banyak pengendara melaju diatas batas kecepatan yang sudah ditetapkan. "Ini menandakan bahwa persoalan ada di pengguna jalan tol, maka bagaimana caranya agar pengendara bisa sadar bahwa kecepatan mereka itu sudah berbahaya. Kalau kita perhatikan beberapa rambu kemudian spanduk pemberitahuan itu sudah dipasang, tetapi pengendara tetap mengabaikan hal tersebut," katanya.

"Sebab ada faktor psikologis dan ini melanda banyak daerah yang baru memiliki jalan tol.Saya kira dengan seiringnya waktu munculnya sosialisasi yang bagus, kemudian munculnya kesadaran masyarakat untuk mengingatkan pengendara agar tidak melaju kencang itu sangat penting. Jadi kesadaran itu tidak hanya di pengendara tetapi juga pada penumpangnya perlu memberitahu agar pengendara tidak membawa diatas batas kecepatan," lanjutnya.

Dia berharap agar instansi terkait saat ini lebih kepada sosialisasi ke pengendara dan diberi peringatan. Selain itu penumpang juga mau mengingatkan pengendaranya.

"Walaupun disisi lain ada juga faktor kondisi fisik jalan bahwa kemulusan jalan tol Lampung dan Sumbagsel ini relatif rendah. Beberapa titik sudah banyak yang diperbaiki, ditingkatkan pada permukaan jalannya agar tidak membuat kendaraan terombang-ambing ketika melintas," katanya.

"Sebab kondisi jalan yang membuat kendaraan limbung itu bisa juga membahayakan. Saya kira dalam proses yang sangat prematur seperti sekarang ini kehadiran jalan tol yang masi baru bagi daerah kita perlu dukungan berbagai pihak memberikan kesadaran kepada pengendara," sambung Ilham.

Sementara itu, menurut dia, pengelola jalan tol perlu memperbanyak spanduk untuk memberitahu pengendara dan rambu-rambu, supaya pengendara bisa sadar mengurangi kecepatan dan tidak melebihi batas kecepatan.

Di sisi lain, keberadaan truk tanpa lampu belakang atau kotor juga perlu diberi peringatan, agar pengendara lain ketika melihat truk di depannya bisa melihat ketika malam hari. Sebab hal itu bisa menyebabkan tabrakan belakang dan ini masih sering terjadi (kecelakaan).

Selain itu, kontrol kecepatan truk yang terlalu lambat itu juga perlu, karena sudah ditentukan batas minimum kecepatan 60km/jam, maka keberadaan truk yang ada di trans Sumatera ini harus dipastikan punya kecepatan minimum jangan lebih rendah dari itu.

"Sebab saya juga banyak menemukan ada kendaraan yang melaju 20 km sampai 40km/jam, dan ini tentu sangat membahayakan kendaraan lainnya terutama kendaraan di belakangnya. Ditambah lagi perilaku pengendara truk yang suka bermanuver tiba-tiba, demi menyelamatkan truknya agar tidak terguling akibat ada kondisi jalan yang rusak. Itu bisa membahayakan kendaraan lain yang ada di belakang," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait