#BANDARLAMPUNG

Pengamat: Stabilisasi Harga Beras Harus Dilakukan

Pengamat: Stabilisasi Harga Beras Harus Dilakukan
Ilustrasi. Dok. Lampost


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pengamat ekonomi Universitas Lampung (Unila), Asrian Hendi Cahya menilai stabilisasi perlu dilakukan untuk menahan gejolak peningkatan harga beras.

"Bulog harus menjadi pelaku (stabilisator), maka respon perubahan harga harusnya langsung bisa dilakukan, sehingga mampu menahan perluasan perubahan harga. Karena jika perubahan harga sudah meluas, maka proses normalisasi membutuhkan waktu yang relatif lama dengan pasokan yang lebih banyak," ujarnya saat dihubungi, Rabu, 25 Januari 2023.

Menurutnya, stok beras di tiap daerah harus selalu dalam keadaan yang cukup. Bulog juga harus terus memantau daerah yang surplus maupun defisit produk.

"Cadangan harus dalam jumlah memadai. Hal ini sesuai dengan kondisi dinamika perubahan harga. Di daerah yang rentan perubahan harga karena bukan daerah produsen, maka cadangannya harus relatif lebih banyak," kata dia.

Pemantauan musim panen penting agar tak terjadi kekurangan stok produk yang mengakibatkan gangguan supply dan demand. Selain itu, pemantauan pasar juga harus sering dilakukan untuk menghindari adanya penimbunan.

"Harusnya pabrik, pedagang beras serta makanan pokok lainnya itu tercatat oleh pemerintah. Sehingga monitor nya bisa lebih mudah," kata dia.

Sementara itu berdasarkan wawancara sejumlah warga, diketahui bahwa sejumlah konsumen belum merasakan dampak perubahan harga beras sejak program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) digalakkan sekitar dua minggu terakhir.

Salsabila (21), konsumen yang sering membeli beras di Pasar Tugu, Bandar Lampung menuturkan harga beras masih tinggi. "Kemarin itu beli harganya masih lumayan mahal, Rp130.000an per sepuluh kilonya, " ujar dia.

Sementara itu, Silpia Ramadani (22) juga merasa harga beras belum mengalami penurunan di wilayah tempat tinggalnya, Kampung Baru, Bandar Lampung.  "Beli di warung itu harganya antara Rp12.000-Rp16.000, masih mahal," ungkapnya saat dihubungi.

Ia juga mengeluhkan kualitas beras. Menurutnya, harga yang mahal tidak sebanding dengan kondisi beras yang ia peroleh. "Beli di warung itu pilihannya cuma satu jenis beras, harganya sama. Kalau harganya mahal kualitasnya harusnya juga dibagusin. Kadang berasnya nggak utuh, patah-patah. Pernah juga dapet yang masih ada gabahnya lumayan banyak," kata dia.

Menjelang bulan Ramadan, ia berharap harga kebutuhan pokok menjadi stabil.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait