#beritalampung#beritalampungterkini#kriminal#curanmor

Pengamat Sebut Integratif Kepolisian dan Pemda Peting dalam Penanganan Curanmor

Pengamat Sebut Integratif Kepolisian dan Pemda Peting dalam Penanganan Curanmor
Ilustrasi. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Penanganan dan pemberantasn pencurian kendaraan bermotor (curanmor) perlu adanya sinergi kepolisian dan pemerintah daerah. Kebijakan yang dibangun jangan hanya mengedepankan penal (hukum pidana) dari kepolisian, tapi juga kebijakan nonpenal (nonhukum pidana) dari pemda.

"Jangan hanya mengandalkan aparat, pemerintah juga ikut turun. Sebab, kemampuan terbatas, SDM terbatas nah ini harus gerak. Aparat kepolisian bergerak, pasukan aparat pemda baik level provinsi, kabupaten, kota, bahkan level kecamatan bahu-membahu menggunakan sarana tadi, kepolisian menggunakan sarana penal dan pemerintah menggunakan sarana nonpenal," kata pengamat hukum Unila Dr. Heni Siswanto, Rabu, 28 September 2022.

Baca juga: Diduga Korsleting Listrik PT Aliet Sejahtera Rahayu Terbakar

Untuk memberantas curanmor perlu sekaligus menggunakan integratif kebijakan pemda dan kepolisian. Penanganan jangan hanya menyerahkan kepada kepolisian saja.

"Perlu digunakan pendekatan integratif upaya pencegahan dan penanggulangan curanmor. Pemerintah harusnya bergerak bagaimana masyarakatnya bisa merasakan aman," ujarnya.

Dia menyatakan adapun caranya dengan cara melakukan program pencegahan dan pemberantasan curanmor. “Nah ini perlu didorong jangan seakan-akan beban yang harus ditanggung kepolisian," katanya.

Menurut dia, pemda sudah harus menganggarkan, menjalankan, dan mengevaluasi agar kejadian curanmor tidak timbul tenggelam. Saat ini, fungsi penegakan hukum curanmor dalam merespon kejadian-kejadian melalui kebijakan kepolisian ibaratnya tarik ulur.

"Kalau lagi kencang curanmor diulur, sedangkan saat dibutuhkan situasi mereka kemudian ditarik lagi. Saya kira kejadian ini merevitalisasi kembali kebijakan kepolisian terhadap curanmor," ujarnya.

Kepolisian harus merespons segera kejadian curanmor dengan menggerakkan polisi muda terkait pencegahan dan penganggulangannya. "Persoalannya adalah saat curanmor sedang tinggi, kepolisan baru menggerakkan pasukannya atau melakukan pemberantasan seperti pencegahan," katanya.

Terakhir, dia mengatakan secara psikologis perilaku curnamor ini karena kebutuhan masyarakat yang sedang tinggi-tingginya. "Ada masyarakat yang mau bayar SPP, kontrakan, mau sekolahkan anak, mungkin orang tuanya pusing memikirkan itu karena tuntutan ekonomi yang tinggi. Salah satunya ya curanmor itu," katanya.

"Kasihan masyarakat Lampung oleh fenomena curanmor. Sekarang perlu polisi ada di mana-mana untuk menjaga keamanan," ujarnya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait