#sekolahtatapmuka#psikologisanak

Pengamat: Kebijakan Sekolah Tatap Muka demi Menjaga Psikologis Anak

Pengamat: Kebijakan Sekolah Tatap Muka demi Menjaga Psikologis Anak
Pengamat Pendidikan Unila Undang Rosidin. Dok. Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kebijakan sekolah tatap muka diambil atas dasar penelitian dan pemahaman mengenai dampak yang timbul bagi anak jika terlalu lama belajar di rumah atau online. Sebab, kelamaan belajar daring secara psikologis dan sosial cukup mengganggu.

"Kebijakan dari pusat itu melihat siswa yang terlalu lama belajar daring. Sebab, hal tersebut kemungkinan secara psikologis serta sosial cukup mengganggu karena sebelum ada pandemi ini terbiasa belajar tatap muka," ujar pengamat pendidikan Unila Undang Rosidin saat dihubungi Lampost.co, Jumat, 20 November 2020.

Berita terkait: Pemprov Lampung Siap Menindaklanjuti Kebijakan Sekolah Tatap Muka

Menurut dia, dengan belajar daring anak hanya bertemu keluarga di rumah dan saudara saja tanpa hubungan dengan guru atau teman sekolah. Padahal, interaksi dengan guru dan temam sepermainan di sekolah ini sangat baik untuk perkembangan pembelajaran dan hal itu juga telah teruji  hasil riset.

"Pemerintah membolehkan saja jika ingin tatap muka, tidak mewajibkan. Bolehnya itu pun melalui perizinan berjenjang dengan syarat mulai dari pemda mengizinkan, dinas mengizinkan, komite sekolah mengizinkan, orang tua mengizinkan, boleh dilakukan pembelajaran tatap muka," ujarnya.

Jika terdapat satu yang tidak mengizinkan, bisa jadi pembelajaran tatap dilakukan secara daring. "Ini dilakukan untuk mengantisipasi agar anak terkontrol dan terpantau guru sehingga sekolah dapat memantau perkembangan pembelajaran anak," katanya.

Ia mengimbau untuk daerah zona merah, seperti Bandar Lampung, jika nantinya akan dilakukan pembelajaran tatap muka, pemerintah daerah agar dapat melihat penetapan zona. "Sebaiknya dijadikan perhatian dan pertimbangan pemerintah untuk pembelajaran tatap muka, jangan gegabah," ujarnya. 

Pembukaan pembelajaran langsung harus berdasarkan kesepakatan di daerah tersebut. "Kalau berisiko menjadi klaster baru akibat sekolah dilaksanakan secara offline, lebih baik menghindar dulu sekolah tatap muka. Intinya lihat perkembangan Covid di daerah tersebut dulu, apakah membahayakan atau tidak," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait