#beritalampung#beritanasional#kebaya

Pengajuan Kebaya ke Unesco Diharapkan Melalui Single Nation

Pengajuan Kebaya ke Unesco Diharapkan Melalui Single Nation
Foto: Tradisikebaya.id


Jakarta (Lampost.co): Wacana pengajuan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam upaya menjadikan kebaya sebagai salah satu warisan budaya tak benda ke Unesco diwarnai penolakan dari berbagai pihak.

Hal itu dipicu dengan adanya gagasan pengajuan Kebaya Goes to Unesco bersama-sama (multi nation) dengan Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Latar belakang pengajuan tersebut diklaim karena kesamaan budaya, sehingga muncul ide joint nomination atau pengajuan nominasi bersama kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Unesco.

Namun, mayoritas pecinta kebaya menolak wacana tersebut dan memilih upaya pengajuan nominasi ke Unesco secara single nation, yang berarti diajukan oleh pemerintah Indonesia secara sendiri.

Salah satu anggota Koalisi Tradisikebaya.id yang juga Wakil Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, Etti RS mengatakan, pengajuan kebaya ke Unesco oleh beberapa negara dapat membiaskan riwayat budaya, dari mana sesungguhnya asal mula busana tersebut.

Baca juga: Penetapan Kenaikan Tarif Ojol Dinilai Kontradiktif dan Membebani Masyarakat

"Selain itu, apabila diakui oleh banyak negara, mungkin saja kebaya tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, bukan lagi bagian dari jati diri bangsa. Karena itu, saya kira akan banyak komunitas yang menolak wacana ini," katanya melalui keterangan resmi, Rabu, 17 Agustus 2022.

Etti menjelaskan, sekalipun pengajuan kebaya ke Unesco merupakan otoritas pemerintah, tetapi sebaiknya melalui proses penjajakan yang melibatkan segenap masyarakat. "Hal ini karena setiap negara memiliki kekhasan budaya yang dilatari oleh pola kehidupan masyarakat setempat," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika wacana ini dilanjutkan, dapat berdampak pada warisan budaya lainnya. Bayangkan jika satu per satu budaya milik bangsa dicicil untuk didaftarkan dengan negara lain sebagai "milik bersama".

"Kelak, anak-cucu kita akan benar-benar kehilangan akar. Mereka bahkan tidak tahu lagi yang mana budaya asli nenek-moyangnya dan mana budaya dari bangsa lain. Semuanya akan berbaur dan akhirnya identitas bangsa tak hanya memudar, tetapi hilang," tuturnya.

Sementara pekerja seni sekaligus sobat kebaya, Dian Sastrowardoyo yang juga salah satu anggota Koalisi Tradisikebaya.id mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kebaya sebagai busana kebanggaan bangsa Indonesia.

Dian Sastro berharap pemerintah bisa mencanangkan kebaya sebagai pakaian wajib yang digunakan pada hari-hari tertentu, seperti halnya batik. 

"Kalau dulu kita wajib berbatik sewaktu berangkat kerja, atau ke sekolah, atau kuliah, kalau bisa suatu hari dicanangkan sama pemerintah, busana nasional atau kebaya wajib (digunakan) satu atau dua hari dalam seminggu. Supaya kita tuh balik ke tradisi, ke adat. Karena itu yang justru membedakan kita dari bangsa-bangsa lain," katanya.

Menurut Dian Sastro, kita harus membuktikan kepada Unesco bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang pakai kebaya. Dian Sastro juga mengajak agar masyarakat Indonesia berperan serta dalam gerakan 'Kebaya Goes to Unesco' dengan mengunggah foto di laman tradisikebaya.id.

"Caranya gampang banget kita tinggal berfoto dengan kebaya kita masing-masing. Kemudian kita unggah pada website tradisikebaya.id. Gerakan ini dimulai dari tanggal 9 Agustus 2022 sampai dengan 9 Desember 2022," tutupnya.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait