#beritalampung#beritabandarlampung#gerhanabulan

Peneliti Astronomi: Gerhana Bulan Total akan Berwarna Merah Darah

Peneliti Astronomi: Gerhana Bulan Total akan Berwarna Merah Darah
Peneliti Astronomi sekaligus Kepala UPT OAIL Itera, Hakim L Malasan. Lampost.co/Andre Prasetyo


Bandar Lampung (Lampost.co): Gerhana bulan total di Indonesia akan berlangsung pada Selasa, 8 November 2022. Fenomena astronomis ini menjadi yang terakhir kalinya di tahun 2022. Fenomena ini pun bisa disaksikan oleh seluruh masyarakat di Indonesia dengan mata telanjang.

Peneliti Astronomi sekaligus Kepala UPT OAIL Itera, Hakim L Malasan, mengatakan, fenomena Gerhana Bulan Total akan melewati beberapa fase yaitu (1) awal masuknya bulan ke penumbra (bayangan samar) bumi; (2) Awal masuknya bulan ke umbra (bayangan tegas) bumi; (3) awal puncak gerhana; (4) puncak gerhana; (5) akhir puncak gerhana; (6) akhir Bulan keluar dari umbra, dan (7) akhir bulan keluar dari penumbra.

Fase pertama, awal Bulan masuk ke penumbra Bumi terjadi pada saat Bulan belum terbit, yaitu pada pukul 15:47 WIB. Selanjutnya yaitu fase gerhana sebagian dimulai pada 16:44 WIB. Bulan akan terbit di Bandar Lampung pada pukul 17.47 WIB dalam kondisi gerhana bulan sebagian.

“Pada pukul 18:11 WIB Bulan akan masuk fase gerhana total, dan puncaknya pada 18:18 WIB, dan berakhir pada 18:25 WIB,” kata Hakim, Selasa, 8 November 2022.

Selanjutnya, Gerhana akan terus berlangsung dengan fase sebagian hingga pada pukul 19:52 WIB, dan akhirnya Bulan akan keluar sepenuhnya dari bayangan bumi (penumbra) pada pukul 20:49 WIB

"Gerhana bulan akan terjadi kembali di tahun 2025, dan ini merupakan fenomena yang cukup langka," ujarnya.

Baca juga:  Antisipasi Varian Baru XBB dan XBC, Dinkes Lamsel Galakkan Penguatan Vaksin

Selain itu, Hakim menjelaskan yanh menarik dari gerhana bulan total tahun ini  adalah bulan akan berwarna merah darah atau red blood moon.

Hal itu awalnya diperkirakan cahaya matahari tehalang oleh bumi. Akan tetapi faktanya tidak 100% cahaya matahari terblokir oleh bumi. Karena bumi punya atmosfer, sehingga atmosfer bumi bersifat menyerap dan menghamburkan cahaya.

"Di mana cahaya yang merah diteruskan ke bulan dan cahaya yang biru semuanya dihamburkan. Bulan tidak akan hilang tetapi justru akan tampak berwarna merah," jelasnya.

Terakhir, ia menambahkan yang membedakan gerhana bulan total di tahun sebelumnya adalah posisi bulan pada gerhana bulan total kali ini masih rendah, sehingga derajat kemerahan bulan itu menjadi ukuran atmosfer bumi.

"Kalau bulan tampak sangat merah debu atmosfer bumi sangat tinggi, kalau bulan tampak merah normal maka atmosfer kita makin bersih," pungkasnya.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait