#penebanganhutan#beritalampung#lamteng#waywaya

Penebangan Hutan Register 22 Way Waya Masih Terjadi

Penebangan Hutan Register 22 Way Waya Masih Terjadi
Seorang warga melintas di bekas penebangan sono keling yang baru-baru ini terjadi di Sendang Baru, Lamteng.(Foto:Dok.Warga)


GUNUNG SUGIH (Lampost.co)--Pengrusakan hutan register 22 Way Waya masih terus berlangsung. Kini selain sonokeling, kayu jati juga menjadi sasaran para perusak hutan. Tak hanya hutan rusak, sejumlah anggota kelompok pada program Hutan Kemasyarakatan di Kampung Sendangbaru ikut merasa dirugikan karena lahannya rusak.

Salah satu anggota kelompok yang enggan disebut namanya mengaku lahannya rusak. Tanaman coklat,lada, aren dan pisang yang selama ini menjadi tumpuan penghasilan jadi rusak akibat penebangan kayu-kayu hutan yang besar-besar.
Bahkan, kini lahan yang menjadi lokasi penebangan jadi terbengkalai.

"Kami takut mau masuk ke lahan kami sendiri. Jangan-jangan kami nanti yang dituduh menebang," kata warga yang sudah ikut HKM sejak bertahun-tahun lalu itu.

Menurut dia, penebangan kayu di lahan-lahan HKM terjadi sekitar September 2018. Sejak itu lahan tak terurus.
Badri, salah satu warga yang peduli dengan kelestarian hutan, mengaku telah melihat langsung bekas-bekas tebangan. Tak hanya itu, khusus tiga kelompok penebang yang telah beroperasi di Sendang Baru juga telah diketahui identitasnya.
"Iya, saya melihat sendiri tunggul-tunggul bekas tebangan itu," kata Badri.

Ia mendengar langsung pengakuan para anggota kelompok HKM yang lahannya rusak akibat penebangan liar itu. Menurut Badri, pengrusakan hutan masih terjadi di Sendang Baru, Sendang Retno, Sendang Asih, Sendang Asri, dan Sendang Mukti. "Itu hampir semua masih ada penebangan," kata dia.

Sebelumnya, personel gabungan Polhut dan KPH telah melakukan beberapa penangkapan terhadap penebang liar. Namun ternyata, perusakan hutan masih berjalan.

EDITOR

Wahyu Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait