kankerkotabumi

Penderita  Kanker Payudara Butuhkan Uluran Tangan

( kata)
Penderita  Kanker Payudara Butuhkan Uluran Tangan
Caption; Demi kesembuhan Eka Diyan Saputri (45), penderita kangker payudara, warga Desa Mlungun Ratu, Kecamatan Sungkai Tengah, didampingi suami, M. Taufik (50), mengharapkan kepedulian dan uluran tangan dermawan, Senin (16-6-2020).  LAMPUNG POST/YUD

Kotabumi (Lampost.co) --  Waktu menunjuk pukul 18.30 WIB Eka Diyan Saputri (45) warga Desa Mlungun Ratu, Kecamatan Sungkai Tengah, terbujur kaku di RSUD Ryacudu Kotabumi, malam itu, Selasa, 16 Juni 2020. 

Didampingi suami, M. Taufik (50) yang bekerja sebagai penyadap getah karet seluas 1/5 hektar (ha) dengan kerja sama bagi hasil ke pemilik lahan, tampak air muka Eka terlihat pasrah. Sesekali dia mengedipkan mata dan menganggukkan kepala. Di garis kelopak matanya, tampak rembesan air mengalir dari rasa nyeri karena penyakit yang dia derita. 

Payudara Eka sebelah kanan dan pingulnya tampak bekas luka yang baru dibersihkan. Untuk aktivitas selama di pembaringan, dia di bantu dengan suami dan keponakannya. 

"Sudah sembilan hari, istri saya Eka di rawat di rumah sakit mas. Pada Rabu, 17 Juni 2020 saya mesti membawanya pulang ke desa untuk rawat jalan sambil menunggu hasil di agnosa dokter dan jadwal operasi pengangkatan kangker dipayudaranya agar tidak menyebar ke organ tubuh yang lain," kata Taufik lirih. 

Adanya benjolan di payudara Eka, sudah diketahui sejak November 2019 lalu  dan Januari 2020. Benjolan tersebut semakin parah dan mengeluarkan nanah yang memaksanya untuk memeriksakan penyakitnya ke Puskesmas Sungkai Tengah. Karena sarana di puskesmas yang terbatas, Eka di rujuk ke RSUD Ryacudu Kotabumi, lalu kembali di rujuk ke RSUDAM Lampung untuk penanganan lebih lanjut.

"Kata dokter spesialis, Eka di vonis menderita kangker payudara yang mengharuskan dia menjalani operasi" tuturnya. 

Pada Kamis, 4 Juni 2020, sakit Eka kambuh dan memaksanya untuk menjalani rawat inap. Saat ini, istrinya sudah tidak bisa lagi bicara maupun menggerakkan tubuhnya.  "Selama dirawat, Eka hanya mampu menggerakkan kepala dan mengerang," kata dia. 

Disinggung pembiayaan operasi, dia mengaku, telah masuk klaim BPJS. Hanya saja, untuk obat-abatan tertentu yang tidak masuk klaim  ia mesti mengeluarkan biaya dan sejak istrinya sakit. Sementara kini,  ia sudah tidak lagi bekerja. 

"Anak saya dua, satu di kelas 6 SD dan kelas 2 SD. Semuanya dititipkan di ibunya yang penghidupannya juga sederhana. Selama sakit, sebagai suami saya mesti mendampinginya," tuturnya kembali.

Untuk bantuan, selain dari keluarga dan perangkat desa, bantuan juga datang dari tetangga tempat dia tinggal. Hanya saja, dia masih kesulitan untuk memenuhi biaya kebutuhan selama menjalani perawatan. 

"Keponakan berinisiatif  membuka dompet donasi bagi kami dan sesungguhnya sebagai kepala keluarga Ini adalah keterpaksaan yang mesti saya lakoni karena di rumah sudah tidak ada sesuatu barang berharga yang bisa kami jual demi kesembuhan istri saya" kata dia lirih. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

Komentar